Selasa, 30 Oktober 2012

Tipuan Kepala Sekolah Yang Membawa Sukses

Dalam sebuah kelas seorang Kepala Sekolah menyampaikan kepada para siswa siswi tahun pelajaran baru, bahwa kelas ini adalah merupakan siswa siswa pilihan dari berbagai sekolah SMP dari berbagai daerah. Sehingga kelas ini nantinya diharapkan dapat berhasil dengan nilai rata-rata lebih tinggi dari kelas lainnya. Mereka nanti akan dibimbing oleh 3 guru yang juga merupakan pilihan, kata Kasek kepada siswa "pilihan" tsb.

Maka setelah kenaikan kelas , kelas ini mendapatkan nilai yang luar biasa. Mereka saling berpacu untuk mendapatkan nilai tertinggi, karenya mereka dapat berhasil mendapatkan nilai terbaik rata-rata dari kelas lainnya.

Pada suatu ketika 3 guru ini menanyakan kpd  Kaseknya mengapa kelas ini menjadi kelas paling top dari kelas lainnya? Maka Kasek itu membuka rahasia yang selama satu ajaran itu dipendamnya saat kepala sekolah memanggil 3 guru dalam kelas ini.."Sebenarnya kalian  adalah siswa-siswa yang saya pilih  secara acak seperti kelas laiinya, namun saya sampaikan kepada Anda bahwa kelas ini adalah siswa unggul dari berbagai sekolah" kata Kasek yang berobservasi itu.
"Status" pujian ternyata membawa dampak dahsyat kepada setiap individu. Sekalipun hasil yang dicapai setiap individu nanti belum jelasMaka dalam kaitan cerita ini juga disampaikan bahwa dalam sebuah organisasi bila seorang pimpinan selalu menekankan target (meskipun ini hal yang lumrah) namun bila dilakukan terus menerus malah akan merusak komitment yang telah dibangun bersama.(Nangkris)

Bersama Angin, Suatu Ketika

Angin, sejak aku lahir dan tumbuh di muka bumi ini, aku tak terbayangkan seberapa jumlah partikel-partikelmu yang aku hirup. Ini membuat seluruh sistem dalam jaringan tubuhku menjadi tumbuh dan berkembang. Aku tak pernah tahu rahasia dibalik zatmu. Kamu membawa partikel oksigen, air dan kadang juga partikel zat padat yang lembut, semua aku hirup dengan seksama untuk memicu jantung dan paru-paruku.


Aku membawa seonggok cerita buatmu, bila kau tak keberatan hembuskan berita yang sepatutnya , kepada teman-temanmu dalam bahasamu yang lembut. dan segar. Tapi ingat, jangan lupakan tugasmu untuk menyeimbangkan kehidupan di bumi ini sesuai job deksmu. Karena peran simbiyanmu, gas,udara sangat menentukan terhadap sistem iklm di bumi.


Perubahan iklim global pada prinsipnya disebabkan oleh naiknya gas-gas karbondioksida, gas metan, dan gas-gas lain pada beberapa dekade ini. Gas-gas tersebut secara normal, yang berada dalam jumlah kecil di atmosfer, dapat meneruskan cahaya matahari sehingga menghangatkan permukaan bumi. Namun, gas-gas tersebut beserta uap air menahan pantulan energi panas dari bumi sehingga memperlambat pengeluaran panas bumi ke angkasa. Alhamdulillah, terimakasih ya Ngin!

Angin, semalam aku terlantar dalam sebuah imajinasi. Aku menjadi seorang pemimpin dalam sebuah komunitas. Aku memikul beban tanggungjawab yang begitu besar terhadap komunitasku ini. Angin, kesibukanku bertambah. Gajiku otomatis juga bertambah. Pemikiran dan strategi mempertahankan organisasi dalam komunitas terus menjejali otakku. Karena pastilah mereka menganggap aku adalah malaikat yang dapat terus menyelamatkan komunitas ini.

Dalam kondisi seperti saat ini aku dituntut untuk terus eksis mempertahankan komunitas ini dalam berusaha. Aku harus mempunyai pemikiran strategis dalam setiap bertindak agar tidak meleset, khususnya pada masalah-masalah ekonomi. Karena buatku ekonomi adalah hamper segalanya untuk membentuk organisasi ini kuat. Apalagi usahaku ini dalam kondisi di luar normal akibat persaingan. Angin , berikan khabar-khabar bagaimana mengatasi usaha yang hamper pailit? Seperti banyak kejadian akhir-akhir ini.ngeri aku, Ngin!

Kondisi perekonomian In­donesia tidak akan ter­le­pas dari pe­ngaruh krisis fi­nan­sial global yang tengah ter­jadi. Wa­lau­pun pe­nga­ruh­nya berbeda di antara ka­langan usaha, po­­tensi pailit terhadap sebuah pe­ru­sahaan selayaknya di­per­­hatikan oleh pe­me­rin­tah. Termasuk system kompetisi usaha. Namun aku tetap selalu berusaha memimpin orgasinasi ini sampai darah penghabisan!

Angin, saat ini aku banyak kehilanagan, meski banyak pula yang aku dapatkan, tetapi aku merasa ini tidak adil. Aku kehilangan hal-hal krusial terhadap kehidupan ini. Alhamdulillah aku selalu sholat 5 waktu untuk memohon kepadaNya , semata-mata demi amanah yang aku emban ini.Aku Aku kehilangan waktu bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan orang-orang yang mungkin perlu keberadaanku.

Aku tidak ingin seperti pemimpin kebanyakan saat ini. Kehilangan kendali kemanusiaan, kendali social dan hamper tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri? Korupsi, perselingkuhan dan polah tingkah “haram” lainnya. Kau bisa merasakan itu Angin? Aku yakin kau merasakan itu.Dalam ruang imajinasiku ini, sengaja aku ingin bercengkrama denganmu Ngin, seperti juga  berdoa kepada Allah dzat yang Agung memohon baerokahnya, karena hanya Dialah yang dapat berbuat segalanya di dunia ini. Kaupun dalam kendaliNya khan?.

Meski wujudmu hanya dapat aku rasakan, dan aku lihat  dari riak gelombang daun ilalang, setidaknya bebanku terasa ringan manakala persoalanku ini telah aku bagikan kepadamu. Aku berharap engkau tetap menemani embun pagi dan menggoyang-goyangkannya di pucuk daun ilalang, memberikan kesegaran pada mahkluk Tuhan, dan jangan lupa jagalah bumi ini agar tetap seimbang, tahanlah amarhamu, karena hembusan seporadis dan sangat kuat dapat membahayakan aku dan segenap umat manusia di bumi ini.Salam manis buatmu***Nangkris

Buku Catatan Sejarah, Sebuah Pilot Project (2-habis)

.....“Kalau kalian ingin belajar sejarah dengan runtut, contohlah catatan buku ini. Semua yang saya jelaskan ada semua dalam catatan buku ini” kata Pak Daud.(dari kumpulan:“Di Sudut Sidomukti”)...selanjutnya...

 Bag:2
“Karena sejarah adalah pelajaran yang terkait waktu, maka masih ada kaitannya dengan peristiwa terdahulu. Tidak apa-apa, seperti buku catatan ini, ada lembar-lembar tempelan yang masih terkait waktu antara sejarah saat ini dan sebelumnya” lanjut Pak Daud., membuat aku menjadi bangga.

Memang aku selalu memberi tambahan dengan menempelkan catatan yang masih terkait dengan catatan sebelumya. Tidak seperti teman-teman umumnya yang ditulis di sembarang tempat. Dipojok buku, bahkan ditulis vertical dicukup-cukupkan. Terkesan tidak rapi.

Pada akhirnya Pak Daud meminjam buku itu saat mengajar di 4 ruang kelas 2 SMP. Aku di II-1, sementara kelas yang lain yang aku maksud itu adalah kelas II-2, II-3 dan II-4. Aku semakin bangga. Meski bermacam reaksi timbul dari beberapa teman-temanku. Ada yang menyambutnya sinis dan menganggap terlalu berlebihan. Karena Pak Daud memberikan instruksi agar membuat kreasi catatan itu seperti buku milikku itu. Pokoknya buku catatan sejarhaku seolah menjadi “pilot project” yang harus menjadi referensi. Namun tak sediki yang memberi pujian dan ingin mencontohnya.

Satu-satunya teman yang mempunyai hak istimewa meminjam itu adalah IR. Seolah-olah buku komik “Gundala Putra Petir” , buku catatan sejarahku selalu di bawa-baawa IR kemana-mana. Kadang terlalu berlebihan dengan memamerkannya kepada  rivalnya JT- CI (jangan tanya cewek ini). Konon ibu IR terkesan dengan hasil karyaku ini. Dua penghargaan sekaligus aku terima, dari IR dan ibunya, aku bangga sekali.(dari catatan:Di Sudut Sidomukti)

Buku Catatan Sejarah, Sebuah Pilot Project

Kalau saja buku itu masih ada pasti akan aku tunjukkan kepada Anda. Buku tebal bergambar Jimmi Hendrix , sengaja tidak aku sampul. Itu adalah kumpulan catatan sejarah mulai kelas 1 hingga kelas 2, dan masih tersisa, cukup untuk dilanjutkan hingga kelas 3 nanti. Hamper semua buku catatanku menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari kelas 1 sampai kelas 3, terintegrasi dengan bagus. Hal ini aku maksudkan disamping untuk kerapian hal ini juga sangat membantu dalam mengukur kemampuan telusur satu matapelajaran dari kelas satu hingga kelas dua.

Di dalam buku itu adalah rangkuman diluar buku diktat. Setiap keterangan guru sejarah, Pak Daud, selalu aku catat. Point demi point yang aku anggap itu penting tak akan luput dalam catatanku. Ini penting. Karena guru yang baik adalah tidak hanya mencari materi ulangan dari buku diktat tetapi dari segala sumber bacaan lainnya, Koran dan catatan yang menjadi keterangan dari buku diktat yang dijelaskan setiap mengajar di kelas.

Aku mempunyai corak tulisan yang bagus. Aku bisa menulis gedrik maupun latin dengan tegak, miring (italic). Aku mencontoh tulisan Bapak yang bagus sekali. Sejak aktif sebagai polisi sampai memimpin PEPABRI (Perkumpulan Purnawirawan ABRI) selalu aku lihat dan sesekali aku contoh.

Dengan pangkat terkahir sebagai AIPTU (Ajun Inspektur Satu atau LETTU (Letnan Satu) , dua strip di pundak, yang setingkat lagi menjadi Kapten, keberadaan Bapak sangat dipentingkan saat purna. Sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Garuda. Sebagai Ketua Tennis Lapangan. Sebagai Ketua Bulutangkis , sebagai Ketua sebuah partai dan masih banyak lagi jabatan yang diemban Bapak.

Karena buku catatan sejarah ini begitu rapi dan komplit maka tak lepas jadi objek pinjam meminjam antar teman. Baik teman cowok terlebih teman-teman cewek. Hingga suatu saat Pak Daud, guru sejarah yang masih muda tetapi rambutnya sudah banyak beruban, karena banyak menghafal sejarah Indonesia dan Dunia. Mulai tahun perang , perjanjian bahkan tanggal lahir tokoh pahlawan Nasional, saat mendekati IR, pacarku saat itu.

“Coba lihat catatanmu, IR” pak Daud mendekati bangku IR sambil melepas kacamata minusnya, dan mengambil buku catatan bergambar Jimmy Hendrix.

“Itu punya Yudi Pak” jelas IR. IR memanggilku dengan panggilan Yudi.

Tak ayal buku itu dibawa ke depan kelas oleh Pak Daud ditunjukkan kepada teman-teman.

“Kalau kalian ingin belajar sejarah dengan runtut, contohlah catatan buku ini. Semua yang saya jelaskan ada semua dalam catatan buku ini” kata Pak Daud.(dari kumpulan:“Di Sudut Sidomukti”)

Kemenangan Instan Yang Berakhir Fatal!

Tubuhku tergeletak dengan kondisi setengah sadar di kursi rotan. Ibu bingung harus berbuat apa, melihat  kondisi tubuhku dengan muka yang pucat sesekali meronta-ronta mengerang kesakitan. Ibu sangat mencemaskan keadaanku.

“Nanang…bangun nak. Ini ibu” aku juga tetap tak merespon. Ini bukan bentuk pembalasanku ketika aku selalu bercerita IR kepada Ibu yang selalu tidak merespon.

Karena lama aku terus tidak sadarkan diri ibu berteriak-teriak minta tolong. Ibu menangis. Memikirkan anaknya yang “bagus” tergeletak lemas tak sadarkan diri. Sementara aroma minyak kayu putih dicampur bawang merah meliputi ruang teras dapur. Obat tradisional itu dioleskan Ibu di seputar perutku yang mual , mulas, seperti diremas-remas dan panas.

Aku tidak tau, apa perasaan Ibu saat itu. Apakah takut kehilangan aku. Aku yakin, segala apa yang telah diperbuat Ibu kepadaku terus menghantuinya. Perasaan menyesal saat mencubit pahaku (bhs.jawa:nyetol) bila  aku tidak memberi kabar terlambat pulang sekolah.  Ibu ingin meminta maaf kepadaku? Atau berjanji tidak akan melakukan itu lagi? Walaupun apa yang telah dialkukannya itu merupakan “madu” bagiku untuk tidak berbuat itu dikemudian hari.

Bude Soekram, ibunda Jon, datang membawa sabun yang sudah dibentuk seperti jari telunjuk. Yang kemudian dimasukkan ke duburku. Aku tetap tak berreaksi. Kakak permpuanku Mbak Eny, membawa kelapa muda yang dipanjatnya di pekarangan depan rumah, orang jawa bilang degan ijo. Konon air kelapa muda hijau ini dapat membunuh racun yang bersemayam ditubuh. Biasanya digunakan untuk orang yang keracunan.

Perlah-perlahan ibu memaksa mengguyur mulutku dengan degan ijo ini. Terus menerus. Ibu pasti tak lupa berdoa agar aku segera siuman dari tragedy ini. Terus itu Ibu lakukan seperti “menggelonggong” sapi potong , agar berat badan sapi menjadi berat dan berharganyapun tentu  mahal.

Ibu semakin cemas. Bapak dan kakak-kakakku yang lain tak ada di rumah. Sementara udara panas di kemarau awal itu menyengat  wilayah pesisir di desaku.

“Hueeek….huweekkk…huweekk” aku muntah. Ini sebagai reaksi air kelapa muda yang hangat mulai merasuk dan menyejukkan rongga perutku. Ada beberapa buah  biji cabai rawit dalam muntahanku. Jelas biji cabai rawit itu tak tercerna oleh ususku. Adajuga mangga muda yang juga tak tercerna dengan sempurna.

Aku berkeringat dan mulai siuman. Ibu memciumiku berkali-kali dan…menangis! Bude Soekrampun kelihatan agak lega. Ibu menyeka keringat yang mengguyur tubuhku sambil menyeka kening dan melepas kaos bertulisan Bali yang saat itu kukenakan. Ibu mencium aku lagi. Aku masih lemas dan masih terasa mual dan sedikit pusing. Hanya kakaku Mbak Eny keliahtan masih terus cemas. Betapa tidak, Mbak Eny lah yang mengajak lomba makan rujak mangga muda dengan garam dan cabe. Dalam lomba itu Mbak Eny membuat suatu  ketentuan siapa yang lebih cepat menghabiskan irisan mangga mudah yang telah ditakar sama, dan merasa tidak pedas itulah pemengnya. Dasar aku. Yang selalu ingin menjadi jagoan dan terus ingin menjadi terbaik dan menang, segala cara aku tempuh. Termasuk dalam lomba ini.

Kulihat Mbak Eny, saat itu,   dengan seksama mengunyah irisan mangga. Dan kulihat irisan mangga ditangannya juga masih banyak . Aku mulai memasang strategi. Aku mengunyah mangga dan cabe rawit ala kadarnya yang penting segera masuk dalam rongga perutku dengan cepat. Bahkan cabe rawit dan garam aku telan begitu saja tanpa aku kunyah. Begitu aku ulang terus menerus tanpa mengetahui akibat yang akan aku rasakan. Pada ahirnya aku hamper saja mengalami hal yang fatal. Dan membuat Ibu cemas melihat akibat dari kecerobohanku itu.

Ibu sempat marah kepada kami, saat aku ceritakan sebab akibat aku menjadi lemas seperti batangan tebu yang telah digiling diambil airnya.

Akan selalu aku ingat. Kemenangan dengan proses yang instant akan membuahkan hal yang fatal. Kemenangan harus melalui proses yang telah ditentukan. Tanpa ada penyimpangan sedikitpun. Namun terkadang manusia diburu oleh target-target kemenangan dengan cara-cara instant. Sehingga ada beberapa proses yang dilewatkan. Bahakan sedikitpun tidak melalui proses.

Akhirnya kemenangan instant ini banyak memberikan filsofi bagiku untuk memamahami proses yang harus ditaati. Hampir saja kemenangan yang aku capai dalam ceritaku ini membuat hal yang fatal. Maaf Ibu!

Semua kemenangan tentulah direncanakan. Dengan strategi apa kemenangan itu bisa dicapai, tergantung siapa lawan kita. Muhammad Ali, petinju legendaries Amerika diberi julukan `si mulut besar` lantaran dia selalu membuat psywar dengan mengolok-olok terlebih dahulu setiap lawan mainnya di ring tinju.(dari catatan:Di Sudut Sidomukti)

Cinta , Mengapa Dapat Menembus Multiruang?

Ketika perbedaan sudah ada sejak lahir pada diri setiap manusia, maka akan semakin terasa tatkala berada dalam kebersamaan. Perbedaan hak hakiki setiap manusia. Namun pada dasarnya kehidupan ini bisa berlanjut oleh karena perbedaan yang saling mengisi satu sama lain.

Sepasang remaja yang baru mengerti arti cinta dengan lawan jenisnya , awalnya tak akan mengerti jika cinta mereka harus tumbuh dan merekapun saling membutuhkan. Tanpa disadari, semakin dewasa tingkat hubungan itu semakin terasa bawa banyak perbedaan dalam status hubungan ini. Seorang pria dan seorang wanita, keyakinan yang berbeda, tetapi "diasah"  oleh kebiasaan saling mengenal satu sama lainnya akhirnya perbedaan ini dapat menyatu, namun ada satu perbedaan yang berkata lain.

Keyakinan yang berbeda! lalu kemana arah selanjutnya yang harus ditempuh dengan perbedaan yang satu ini? sementara cinta dapat menembus multiruang , dipisahkan? atau dilanjutkan dengan berbagai problema yang akan dihadapi di depan?...mengapa cinta  dapat  menembus "multiruang"? (buat seseorang untuk direnungkan dan ambil keputuskan-Nangkris)

Menahan Muntah

Ketika aku simpan sumpah serapah dan kukulum di bibir, tak bisa. Karena suasana di luar jendela hati semakin buas. Kebohongan yang reot, pencintraan yang semakin melorot dan penderitaan  kaki-kaki kasar di tanah gersang hanya jadi catatan usang.

Baju kumal, perut tipis bersandal tak pernah diurus meski hanya sejurus. Sekarang aku mual dan menahan muntah! Melihat gerakan-gerakan slow motions di panggung sandiwara gila. Meski pemerannya tampan berdasi tetapi dialognya pahit getir bagai petir. Mendekatlah akan kutonjok! dengan kata-kata logis dan berprikemanusiaan, agar lehernya yang kaku dapat menoleh ke keranjang sampah sebelah.

Mencari kebenaran di negeri ini berliku-liku, orang jahat bergandeng tangan dengan orang cerdik. Di langit ada orang-orang kaya raya  di bumi hanya kaum sepi rejeki tertambat di rel kereta. Kritik pedas sudah menyublim, seperti hilangnya pedas sambal di kakilima karena harga cabe melambung. Masihkah kita akan bicara dosa bila masih tertawa di depan kaca? Udara penuh dosa, ada menteri tidak merokok kena kanker paru? Masihkah orang bijak bayar pajak, bila uagnnya di kotak perompak?

Aku hanya akan berlindung pada Tuhan, akan kucari kebenaran seperti beningnya embun pagi saat debu masih tidur di ruang pengap menyentuh bibir bumi. Kalau ada kabar dari kupu-kupu tentang kedamaian, akan aku nyanyikan seloka indah di taman bunga agar kembang-kembang mekar sumekar.(Nangkris)