Ketika aku simpan
sumpah serapah dan kukulum di bibir, tak bisa. Karena suasana di luar
jendela hati semakin buas. Kebohongan yang reot, pencintraan yang
semakin melorot dan penderitaan kaki-kaki kasar di tanah gersang hanya jadi catatan usang.
Baju kumal,
perut tipis bersandal tak pernah diurus meski hanya sejurus. Sekarang
aku mual dan menahan muntah! Melihat gerakan-gerakan slow motions di
panggung sandiwara gila. Meski pemerannya tampan berdasi tetapi
dialognya pahit getir bagai petir. Mendekatlah akan kutonjok! dengan
kata-kata logis dan berprikemanusiaan, agar lehernya yang kaku dapat
menoleh ke keranjang sampah sebelah.
Mencari
kebenaran di negeri ini berliku-liku, orang jahat bergandeng tangan
dengan orang cerdik. Di langit ada orang-orang kaya raya di
bumi hanya kaum sepi rejeki tertambat di rel kereta. Kritik pedas sudah
menyublim, seperti hilangnya pedas sambal di kakilima karena harga cabe
melambung. Masihkah kita akan bicara dosa bila masih
tertawa di depan kaca? Udara penuh dosa, ada menteri tidak merokok kena
kanker paru? Masihkah orang bijak bayar pajak, bila uagnnya di kotak
perompak?
Aku
hanya akan berlindung pada Tuhan, akan kucari kebenaran seperti
beningnya embun pagi saat debu masih tidur di ruang pengap menyentuh
bibir bumi. Kalau ada kabar dari kupu-kupu tentang kedamaian, akan aku
nyanyikan seloka indah di taman bunga agar kembang-kembang mekar
sumekar.(Nangkris)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar