Tubuhku tergeletak dengan kondisi setengah sadar di kursi rotan. Ibu bingung harus berbuat apa, melihat kondisi tubuhku dengan muka yang pucat sesekali meronta-ronta mengerang kesakitan. Ibu sangat mencemaskan keadaanku.
“Nanang…bangun
nak. Ini ibu” aku juga tetap tak merespon. Ini bukan bentuk
pembalasanku ketika aku selalu bercerita IR kepada Ibu yang selalu tidak
merespon.
Karena lama
aku terus tidak sadarkan diri ibu berteriak-teriak minta tolong. Ibu
menangis. Memikirkan anaknya yang “bagus” tergeletak lemas tak sadarkan
diri. Sementara aroma minyak kayu putih dicampur bawang merah meliputi
ruang teras dapur. Obat tradisional itu dioleskan Ibu di seputar perutku
yang mual , mulas, seperti diremas-remas dan panas.
Aku tidak tau,
apa perasaan Ibu saat itu. Apakah takut kehilangan aku. Aku yakin,
segala apa yang telah diperbuat Ibu kepadaku terus menghantuinya.
Perasaan menyesal saat mencubit pahaku (bhs.jawa:nyetol) bila aku tidak memberi kabar terlambat pulang sekolah. Ibu
ingin meminta maaf kepadaku? Atau berjanji tidak akan melakukan itu
lagi? Walaupun apa yang telah dialkukannya itu merupakan “madu” bagiku
untuk tidak berbuat itu dikemudian hari.
Bude Soekram,
ibunda Jon, datang membawa sabun yang sudah dibentuk seperti jari
telunjuk. Yang kemudian dimasukkan ke duburku. Aku tetap tak berreaksi.
Kakak permpuanku Mbak Eny, membawa kelapa muda yang dipanjatnya di
pekarangan depan rumah, orang jawa bilang degan ijo. Konon air kelapa
muda hijau ini dapat membunuh racun yang bersemayam ditubuh. Biasanya
digunakan untuk orang yang keracunan.
Perlah-perlahan
ibu memaksa mengguyur mulutku dengan degan ijo ini. Terus menerus. Ibu
pasti tak lupa berdoa agar aku segera siuman dari tragedy ini. Terus itu
Ibu lakukan seperti “menggelonggong” sapi potong , agar berat badan
sapi menjadi berat dan berharganyapun tentu mahal.
Ibu semakin cemas. Bapak dan kakak-kakakku yang lain tak ada di rumah. Sementara udara panas di kemarau awal itu menyengat wilayah pesisir di desaku.
“Hueeek….huweekkk…huweekk”
aku muntah. Ini sebagai reaksi air kelapa muda yang hangat mulai
merasuk dan menyejukkan rongga perutku. Ada beberapa buah biji
cabai rawit dalam muntahanku. Jelas biji cabai rawit itu tak tercerna
oleh ususku. Adajuga mangga muda yang juga tak tercerna dengan sempurna.
Aku
berkeringat dan mulai siuman. Ibu memciumiku berkali-kali dan…menangis!
Bude Soekrampun kelihatan agak lega. Ibu menyeka keringat yang mengguyur
tubuhku sambil menyeka kening dan melepas kaos bertulisan Bali yang
saat itu kukenakan. Ibu mencium aku lagi. Aku masih lemas dan masih
terasa mual dan sedikit pusing. Hanya kakaku Mbak Eny keliahtan masih
terus cemas. Betapa tidak, Mbak Eny lah yang mengajak lomba makan rujak
mangga muda dengan garam dan cabe. Dalam lomba itu Mbak Eny membuat
suatu ketentuan siapa yang lebih cepat menghabiskan irisan
mangga mudah yang telah ditakar sama, dan merasa tidak pedas itulah
pemengnya. Dasar aku. Yang selalu ingin menjadi jagoan dan terus ingin
menjadi terbaik dan menang, segala cara aku tempuh. Termasuk dalam lomba
ini.
Kulihat Mbak Eny, saat itu, dengan
seksama mengunyah irisan mangga. Dan kulihat irisan mangga ditangannya
juga masih banyak . Aku mulai memasang strategi. Aku mengunyah mangga
dan cabe rawit ala kadarnya yang penting segera masuk dalam rongga
perutku dengan cepat. Bahkan cabe rawit dan garam aku telan begitu saja
tanpa aku kunyah. Begitu aku ulang terus menerus tanpa mengetahui akibat
yang akan aku rasakan. Pada ahirnya aku hamper saja mengalami hal yang
fatal. Dan membuat Ibu cemas melihat akibat dari kecerobohanku itu.
Ibu sempat
marah kepada kami, saat aku ceritakan sebab akibat aku menjadi lemas
seperti batangan tebu yang telah digiling diambil airnya.
Akan selalu
aku ingat. Kemenangan dengan proses yang instant akan membuahkan hal
yang fatal. Kemenangan harus melalui proses yang telah ditentukan. Tanpa
ada penyimpangan sedikitpun. Namun terkadang manusia diburu oleh
target-target kemenangan dengan cara-cara instant. Sehingga ada beberapa
proses yang dilewatkan. Bahakan sedikitpun tidak melalui proses.
Akhirnya
kemenangan instant ini banyak memberikan filsofi bagiku untuk memamahami
proses yang harus ditaati. Hampir saja kemenangan yang aku capai dalam
ceritaku ini membuat hal yang fatal. Maaf Ibu!
Semua
kemenangan tentulah direncanakan. Dengan strategi apa kemenangan itu
bisa dicapai, tergantung siapa lawan kita. Muhammad Ali, petinju
legendaries Amerika diberi julukan `si mulut besar` lantaran dia selalu
membuat psywar dengan mengolok-olok terlebih dahulu setiap lawan mainnya
di ring tinju.(dari catatan:Di Sudut Sidomukti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar