Berikut wawancara wakil ketua komisi VII DPR (PDIP) Efendi Simbolon
Selengkapnya klik di sini
Rabu, 31 Oktober 2012
Inilah Oknum-oknum DPR Pemeras BUMN
Kasus potensi kerugian negara karena PLTGU sebesar rp 37 T rupanya akan menyeret nama oknum anggota DPR pemerasBUMN. Mudah2an Dahlan Iskan benar dengan pernytaannya ini atau seperti pers katakan jangan-janagan Dahlan Ikan menggali kubur untuk dirinya? Simak
Klik di sini
Klik di sini
Selasa, 30 Oktober 2012
Mencari Makan , Tanpa Disadari Juga Mencari Mangsa
Begitu bel sekolah berbunyi sekitar
jam 9 pagi tanda istirahat, para siswa sebuah sekolah langsung menyerbu
para penjual jajanan sekolah di luar pagar. Berbagai jajanan tersedia
seperti layaknya pasar malam. Ada pentol, martabak, cireng, berbagai
nuget dengan warna mentereng. Sementar di sebelah sana juga ada penjual
yang khusus menyediakan minuman dengan berbagai warna warni yang tak
kalah menariknya dari panggung Opera Van Java.
Seorang ibu dengan pakaian ala
kadarnya, lusush dan rambut kusut, memasukkan es batu ke dalam sebuah
bak es tebu yang encer. Digiling dengan gilingan pemutar bertenaga
diesel kecil , dimasukkannya batangan tebu yang sudah di kerik bersih,
tetapi belum terseleksi adakah diantara batangan itu tebu yang busuk dan
ada sarang ulatnya? maka sedetik kemudian keluarlah cairan hijau
"leteheq" agak ketua tuaan. Terus itu dialukan untuk mengisi bak mika
(mudah2an sdh dicuci alias distiriil) seperti layaknya aku ketika
mengisi bak mandi mushola tempat mengaji.
Penjual cireng juga tak kalah
serunya dengan minyak dipanci yang warnanya sudahmulai menghitam tanda
jenuh, namun tak sedikitpun ada upaya menggantikan dengan minyak yang
baru. Anak-anak sekolah mengelilinginya dengan seksama, begitu matang
dimasukkan dalam plastik, dilumuri saus "ketela" merah menyala, dibuburi
entah apa yang rasanya sangat disuka anak-anak. Dengan lahapnya mereka
anak-anak tak berdosa itu menyantap makanan-makanan cept saji itu. Entah
, diantara mereka apakah perutnya sudah "disarapi" dengan nasi masakan
ibu di rumah? yang jelas mereka sangat menikmati!
Para produsen2 itu tak mau tahu
dengan kandungan vitamin, ataupun zat berbahaya terhadap produknya.
Mereka tak akan ambil pusing dengan semuanya itu, yang ada dibenak
mereka adalah yang terpenting pulang dengan dagangan bersih dan uang
sudah siap ditangan untuk keluarganya. Karena hanya itu yang bisa mereka
lakukan.
Mereka tak tahu apa itu Rhodamin
B.Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri
tekstil dan kertas. Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan
dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Zat itu sangat
berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan.
Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan,
iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan dan
bahaya kanker hati.
Sementara zat lainnya seperti
pewarna kuning Metanil. Apa pula ini? Zat pewarna kuning metanil adalah
pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan cat berbentuk
serbuk atau padat yang berwarna kuning kecoklatan.Dalam takaran tertentu
bisa membahayakan kantung kemih!
Belum lagi bahan pengawet yang
sudah populer sedemikian juga pemakaiannya oleh para pemburu "mangsa"
anak sekolah itu dipopulerkanyaitu Formalin! Aduh! itu terjadi sepanjang
masa sampai saat ini kalau kita perhatikan.
Siapa yang salah? mereka tak
pernah mendapatkan sosialisasi? penyuluhan tentang bahaya produk yang
dijualnya. Atau juga ada yang telah mengetahuinya tentang bahaya
produknya? karena alasan instan, biaya murah dan bahannya sangat mudah
didapat! Ini tanggungjawab siapa pula? karena dalam dekade tertentu
banyak kasus terjadi sebagai dampak menkonsumsi bahan-bahan kimia ini.
Solusi awal yang seharusnya kita
lakukan sebagai orang tua adalah, dengan memberikan penyuluhan terhadap
anak-anak kita tentang bahaya bahan-bahan makanan yang terkandung dalam
jajanan sekolah. Sebagai bentuk tindakan preventiv berilah mereka sangu
makanan dari rumah yang jelas dari bahan apa ibu memasaknya. Hindarilah
memberikan uang jajan yang berlebihan.
Mudah2an hal ini akan sedikit
memeberikan gambaran terhadap para orang tua terhadap generasi muda yang
akan hidup bertahun tahun lagi. Mereka sebagai wakil orang tua di bumi
nantinya. Akankah kita biarkan mereka terus menerus menkonsumsi zat-zat
yang dapat meracuni mereka. Maka bergegaslah dan cepatlah bertindak,
baik orang tua, pemerintah, sekolah dan para konsumen2 itu. Semoga
mereka tidak semata-mata mencari "mangsa" hanya untuk kuntungan semata
dan Allah akan memberikan petunjuk kepada kita semua.Amin***Nangkris.
Dengan 2 Kelopak Mata, Semua Hanya Satu
Salah satu organ penting bagi manusia
adalah mata. Mata sebagai pendeteksi cahaya apakah lingkungan sekitar
terang atau gelap. Lebih komplek mata mempunyai peran memberikan
pengertian visual. Setiap manusia normal memiliki sepasang mata, mata
kanan dan mata kiri. Melalui mata manusia dapat melihat segal sesuatu
isi dunia ini dengan segala visualnya. Berbagai warna dengan bantuan
cahaya.
Secara fisik organ mata bagian
luar terdiri dari bulu mata, alis mata dan kelopak mata, sedangkan organ
dalam jauh lebih komplek , karena organ dalam ini yang memiliki peran
penting dalam merefleksikan obyek yang ditangkap, kornea, pupil, lensa
mata, retina dan syaraf mata.
Alhamdulillah dengan
kebesaranNya sepasang mata yang masing-masing menangkap sebuah obyek,
akan diterjemahkan dalam satu objek, padahal kalau kita pejamkan salah
satu mata objekpun satu, begitu dua mata terbuka maka objekpun juga
satu. Memang ada teknik memunculkan dua obejk yang kita lihat dengan
menekan kelopak mata ke atas ataupun ke bawah. Hal ini terjadi ketidak
samaan sudut padang antara mata yang satu dengan mata yang lain.
Dalam arti lain apa yang kita
pandang dengan sepasang mata atau dua buah kelopak mata maka akan
diterjemahkan satu objek saja. Namun terkadang setelah melalui proses,
tak jarang kita melihat objek yang telah diterjemahkan mata tersebut
kemudian diolah dalam berbagai persepsi. Karena mata hanya bisa
memberikan visual tentang objek yang kita tangkap.
Hal lain begitu kita melihat
sebuak sosok kepribadian, dalam visual, memang nampak sebuah kepribadian
itu hanya satu objek saja, namun kemudian kita akan banyak
menterjemahkan bermacam-macam persepsi kepribadian tersebut. Apakah ini
sebuah manipulasi? Kenapa kita tidak bisa memandang satu bojek
kepribadian itu apa adanya, dalam satu sisi saja yaitu yang beraura
positip tentang sosok kepribadian tadi? seperti yang diterjemahkan oleh
mata?
Apakah memang karena
masing-masing kelopak mata manusia terdiri dari mata yang berorientasi
pada aura positip dan yang lainnya negatif terhadap sosok kepribadian?
hingga kemudian melalui proses menimbulkan berbagai persepsi dan
penialaian terhadap sebuah kepribadian?
Ya dengan dua buah kelopak mata
manusia bisa membuat satu visi dalam hidupnya, meski seiring
perkembangan kejiwaan visi itu selalu berubah-rubah? Kalau dengan dua
mata kita melihat satu kesatuan, mengapa Allah menciptakan manusia
dengan dua kelopak mata pada setiap manusia? Allahua'lam. Mudah-mudahan
Anda paham apa yang saya maksudkan ini. Karena yang ada dalam pemikiran
saya lebih dari apa yang saya tuangkan dalam tulisan
ini.(Nanagkris-puasa 14)
Perihnya Merasakan PHK
Pagi ini saya pertama masuk kerja
sebagai penyiar sebuah radio swasta nasional. Tidak terbayang saya akan
menang dalam kompetisi untuk menjadi penyiar menyisihkan 3 pesaing.
Meski saat menghitung-hitung probabilitas saya yakin akan mengalahkan
mereka. Saya selalu menyapa para pendengan, terutama yang sudah di list
oleh programer untuk orang-orang tertentu mesti selalu disapa melalui
udara. Mereka layak untuk selalu disapa dan dihadiahi lagu ukhusus,
karena mereka merupakan pendengar yang selalu memborong kupon pilihan
pendengar yang otomatis berkontribusi dalam pendapatan perusahaan
broadcasting ini.
Saya membawakan acara Pesona
Pagi, menyapa pendengar yang siap berangkat kerja dan siswa yang juga
akan bernagkat sekolah. Operator telah menata musik yang akan diputar
selama kurun waktu 1 jam kedepan dipotong iklan. Lagu demi lagu saya
putar hingga tak terasa siaran relay harus disiapakan dari RRI Jakarta
guna mengikuti warta berita jam 07.00 WIB. Tetapi sayang , sebagai
penyiar baru saya sempat dimarahi langsung pak Direktur
" Kamu koq masih panggung sandiwara , ini saatnya warta berita" kata boss saya itu.
Maklum lagu terkahir yang saya putar adalah Panggung Sandiwaranya God Bless yang dibawakan Achamd Albar...ya pengalaman pertama dimarahi boss...
" Kamu koq masih panggung sandiwara , ini saatnya warta berita" kata boss saya itu.
Maklum lagu terkahir yang saya putar adalah Panggung Sandiwaranya God Bless yang dibawakan Achamd Albar...ya pengalaman pertama dimarahi boss...
Tak ada perjanjian akad khusus
pengusaha dan saya selaku tenaga kerja saat itu. Ya otomatis tidak ada
peraturan tentang hak saya dan kewajiban saya, semua mengalir begitu
saja. Saya menyiarkan acara Pesona Pagi, dan membantu administrasi di
kantor. Gajinyapun juga tidak standar, tidak amsalah menurut saya,
karena saya sudah bisa menyalurkan hobbi koleksi kaset , karena saat itu
belum ada CD kale...yang ada adalah long play (LP) alias piringan
hitam...,salam-salaman dan kontak-kontakan saat di SMA dulu.Apalagi saya
sempat frustasi karena gagal kuliah di fakultas pertanian universitas
swasta di Malang. Saya gagal masuk universitas negeri dengan jurusan
yang sama , sehingga perkuliahan saya terseok-seok. Sempat menganggur 10
bulan sebelum nekad jadi penyiar radio ini.
Suatu waktu ada kakak kelas
SMAku yang telah bekerja di sebuah perusahaan umum bidang telekomunikasi
menghubungi saya di kantor. Ada lowongan. Terpanggil untuk mendapatkan
status yang pasti seperti teman saya yang sudah bekerja, saya coba
mendaftar. Namun tentunya saya harus minta ijin ke Direktur Perusahaan
Radio Swasta Niaga ini, tidak tanggung-tanggung, saya minta ijin 3
hari.Karena testnya nanti akan dialkaukan secara bertahap kata teman
saya. Saya menulis surat ijin lagi 3 hari.Namun apa hendak dikata , ijin
saya molor hingga 7 hari kerja. Rupanya ketidak hadiran saya membuat
radio ini menjadi kolong koming alias nyaris berantakan, karena banyak
penggemar saya selalu menanyakan kehadiran saya (ceileh..)
Naas...bulan ke 3 masa kerja
saya , berakhir pada secarik kertas yang berperihal : Pemutusan Hubungan
Kerja (PHK). Saat itu saya belum tahu tentang aturan ketenagakerjaan ,
seperti akhirnya tdimuat secara tersurat dalam UU no 13 tahun 2003,
pasat 1 ayat 15 yang disebutkan :hubungan kerja adalah hubungan hukum
yang timbul antara pekerjadan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja
yang mempunyai ciri-ciri adanya upah, adanya perintah dan adanya
pekerjaan. Terlalu berat bagi saya untuk mengerti hal semacam itu.
Apalah itu aturan , yang penting saat dalam kegundahan itu saya bisa
menghibur diri dengan bercuap cuap di depan mic.Saya dapat pesangon yang
tak tahu dasar besarannya berapa, tapi lumayan untuk biaya transport
selama mengikuti test itu.
Ada hal menarik dan hikmah
mendalam dalam perjalanan ini. Saya semakin mendekatkan diri pada Allah.
Agar kegamangan saya setelah di PHK dapat terobati dengan diterimanya
saya di perusahaan umum ini (sekarang menjadi sebuah BUMN yang bergerak
di bidang telekomunikasi). 5 orang mengikuti test, dalam tahapan seleksi
secara berangsurangsur rekan-rekan saya tereleminasi, hingga tinga kami
berdua untuk mengikuti test akhir "kesehatan".Rupanya Allah mendengan
doa saya, saya satu-satunya yang lolos dalam tes terakhir.
Namun saya sangat merasakan saat
menunggu pengumuman, uang sudah tidak punya karena dari radio saya
sudah tidak mendapat gaji. Mana bertepatan dengan hari raya, punya pacar
cantik tetapi dompet "gelondangan"...bayangkan saja. Biasanya kami
berdua sepulang dia sekolah selalu mentraktir baso atau rujak manis.
Karena proses penyaringan tes ini begitu panjang , sehingga semua
kebimbangan antara takut kehilangan pacar, kehilangan kepercayaan teman2
saya dan yang paling saya galaukan justu kehilangan "masa depan"!
Ya , setidaknya saya sudah
merasakan betapa PHK merupakan kata-kata yang tidak berpihak pada
perikemanusiaan menurut saya saat itu. Saya tidak dapat mengumpat
siapa-siapa, karena saat itu saya belum megerti perangkat
perundang-undangan yang ada. Untuk saya tidak larut dengan keemosialan
hingga sampai berniat anarkis kepada perusahaan radio, meski saat itu
kadang timbul sikap anak muda saya untuk berbuat itu. Yang selalu saya
ingat adalah pesan Ibu"Sekali kamu berbuat nekad (anarkis) , itu
menghadang masa depanmu" begitu Ibu saya.
Alhadulillah saya sudah mendapat
"pegangan hidup" sebagai karyawan. Namun saya terus mencoba belajar dan
belajar untuk mengetahu minimal apa sebenarnya hubungan karyawan dan
perusahaannya. Ada aturan yang jelas tentang hak dan kewajiban
masing-masing yang kadang relatif berbeda kepentingan. PHK akan menjadi
kalimat kasar bagi tenaga kerja dan dapat menyengsarakan.Makanya saya
sependapat dengan pemerintah bila berharap jangan sampai terjadi
PHK***Nangkris.
Senja Yang Terus Merona
Dengan penuh percaya diri meski
hatinya pahit, Sutinah tetap bertahan tersenyum, meski tidak tahu apa
sebenarnya yang terjadi dalam perasaannya, tat kala suamimya, si Jupri
mengatainya dengan sedikit manja
"Hemm
...aku bersyukur bertemu dengamu Tin, meski dikata orang bodymu
glinuk-glinuk" sambil merebahkan tubuhnya dengan tangan merentang hingga
bulu keteknya jelas.
"Alah mas gini-gini kamu ya tergila-gila sama aku" balas Sutinah nyengir.
"Ya aku tergila-gila sama (sensor-penulis) mu..loh tenan qi" sambil sedikit tersenyum mesra.
Entah apa selanjutnya yang dapat
terbaca dalam diri Sutinah apalagi perasaannya. Tetapi jelas semakin
dia dihina oleh orang yang mencintainya itu, malah Sutinah
berbunga-bunga. Setidaknya dia berfikir, bahwa seratus persen dia tahu
bahwa suaminya adalah orang yang sangat mencintainya dan setia.
Sutinah hanya berbekal keyakinan
kepada Allah dimana setiap melangkah seolah hatinya memohon agar Jupri
akan selalu menyintainya. Padahal dirinya sangat memaklumi kalaupun ada
gadis yang lebih cantik dari dirinya, Jupri bisa saja berpaling. Namun
dari sikap kedekatan batinnya dengan sang suami, Sutinah masih merasa
bahwa memang dialah pilihan Jupri.
Relasi yang nampak sangat
bertentangan , meski Jupri tak setampan Roy Martyn namun sedikit mirip
dengan Franky Sahilatua, semntara Sutinah berperawakan gemuk dan pendek ,
namun mempunya bibir tipis yang kenes, mata yang tajam dan selalu
riang. Daya tarik tersendiri rupayna bagi Jupri. Hubungan ini nampak
begitu matang dan merasa selalu tersanjung satu sama lain tat kala
muncul sentilan-sentilan masalah performance masing-masing.
Ikatan bathin yang terlalu rekat
satu sama lain, apapun gejolak yang terjadi , terjadilah! ini bukan
halangan untuk mereka apalagi harus berkonfrontasi hanya karena masalah
performance lahiriyah. Sutinah merasa cinta adalah lebih pada hubungan
batin darpada bentuk luar! Sutinah meyakini itu. Apalagi selama ini
segala daya upaya telah dikerahkannya hanya untuk suami dan 2 anaknya
itu.
Sutinah bukanlah perempuan
gedongan yang maunya selalu dipuja. Dan akan memaki-maki apabila
dikritik , maunya selalu didambakan dan selalu dicantikkan. Tidak ada
yang tahu dibalik semua itu terkadang hanyalah bayangan semu dan
pujian-pujian itu ibarat fatamorgana yang terjadi sebaliknya! Bagus,
Sutinah punya prinsip bahwa cinta bukanlah hanya hubungan lahiriyah,
penampakan dan lainnya yang kasat mata, tetapi lebih daripada hubungan
hati,batin dan rasa! Dan bila ini terus menerus terjadi akan berdampak
fatal !
Kenapa begitu, ya banyak
kontradiksi terjadi dalam perjodohan manusia, yang pendek mendapat jodoh
yang tinggi, jelek dengan cantik ataupun tampan. Sepertinya sangat
mengesampingkan hubunga lahiriyah. Mereka lebih menonjolkan hubungan
bathin dan cinta yang sesunggunya. Sehingga meski secara lahir Sutinah
harus sering berpisah dengan Jupri dalam jarak yang jauh dan dalam waktu
yang lama, bagi Sutinah hubungan batinnya serasa tidak ada jarak, dan
waktu seberapa lamapun baginya adalah sekejap saja.
Kunci kesetiaan itulah yang
selalu dilakukan untuk suaminya, hinga Sutinah yakin bahwa
sikap-sikapnya itulah adalah bak magent yang bisa mengangkat berton-ton
besi tua! Dan itulah mungkin yang membuat mereka bertahan dalam tatanan
rumah tangga yang utuh. ***Nangkris, (Romadhan suatu ketika)
Tipuan Kepala Sekolah Yang Membawa Sukses
Dalam sebuah kelas seorang Kepala
Sekolah menyampaikan kepada para siswa siswi tahun pelajaran baru, bahwa
kelas ini adalah merupakan siswa siswa pilihan dari berbagai sekolah
SMP dari berbagai daerah. Sehingga kelas ini nantinya diharapkan dapat
berhasil dengan nilai rata-rata lebih tinggi dari kelas lainnya. Mereka
nanti akan dibimbing oleh 3 guru yang juga merupakan pilihan, kata Kasek
kepada siswa "pilihan" tsb.
Maka setelah kenaikan kelas ,
kelas ini mendapatkan nilai yang luar biasa. Mereka saling berpacu untuk
mendapatkan nilai tertinggi, karenya mereka dapat berhasil mendapatkan
nilai terbaik rata-rata dari kelas lainnya.
Pada suatu ketika 3 guru ini
menanyakan kpd Kaseknya mengapa kelas ini menjadi kelas paling top dari
kelas lainnya? Maka Kasek itu membuka rahasia yang selama satu ajaran
itu dipendamnya saat kepala sekolah memanggil 3 guru dalam kelas
ini.."Sebenarnya kalian adalah siswa-siswa yang saya pilih secara acak
seperti kelas laiinya, namun saya sampaikan kepada Anda bahwa kelas ini
adalah siswa unggul dari berbagai sekolah" kata Kasek yang berobservasi
itu.
"Status" pujian ternyata
membawa dampak dahsyat kepada setiap individu. Sekalipun hasil yang
dicapai setiap individu nanti belum jelasMaka dalam kaitan cerita ini
juga disampaikan bahwa dalam sebuah organisasi bila seorang pimpinan
selalu menekankan target (meskipun ini hal yang lumrah) namun bila
dilakukan terus menerus malah akan merusak komitment yang telah dibangun
bersama.(Nangkris)
Bersama Angin, Suatu Ketika
Angin,
sejak aku lahir dan tumbuh di muka bumi ini, aku tak terbayangkan
seberapa jumlah partikel-partikelmu yang aku hirup. Ini membuat seluruh
sistem dalam jaringan tubuhku menjadi tumbuh dan berkembang. Aku tak
pernah tahu rahasia dibalik zatmu. Kamu membawa partikel oksigen, air
dan kadang juga partikel zat padat yang lembut, semua aku hirup dengan
seksama untuk memicu jantung dan paru-paruku.
Aku
membawa seonggok cerita buatmu, bila kau tak keberatan hembuskan berita
yang sepatutnya , kepada teman-temanmu dalam bahasamu yang lembut. dan
segar. Tapi ingat, jangan lupakan tugasmu untuk menyeimbangkan kehidupan
di bumi ini sesuai job deksmu. Karena peran simbiyanmu, gas,udara
sangat menentukan terhadap sistem iklm di bumi.
Perubahan
iklim global pada prinsipnya disebabkan oleh naiknya gas-gas
karbondioksida, gas metan, dan gas-gas lain pada beberapa dekade ini.
Gas-gas tersebut secara normal, yang berada dalam jumlah kecil di
atmosfer, dapat meneruskan cahaya matahari sehingga menghangatkan
permukaan bumi. Namun, gas-gas tersebut beserta uap air menahan pantulan
energi panas dari bumi sehingga memperlambat pengeluaran panas bumi ke
angkasa. Alhamdulillah, terimakasih ya Ngin!
Angin,
semalam aku terlantar dalam sebuah imajinasi. Aku menjadi seorang
pemimpin dalam sebuah komunitas. Aku memikul beban tanggungjawab yang
begitu besar terhadap komunitasku ini. Angin, kesibukanku bertambah.
Gajiku otomatis juga bertambah. Pemikiran dan strategi mempertahankan
organisasi dalam komunitas terus menjejali otakku. Karena pastilah
mereka menganggap aku adalah malaikat yang dapat terus menyelamatkan
komunitas ini.
Dalam
kondisi seperti saat ini aku dituntut untuk terus eksis mempertahankan
komunitas ini dalam berusaha. Aku harus mempunyai pemikiran strategis
dalam setiap bertindak agar tidak meleset, khususnya pada
masalah-masalah ekonomi. Karena buatku ekonomi adalah hamper segalanya
untuk membentuk organisasi ini kuat. Apalagi usahaku ini dalam kondisi
di luar normal akibat persaingan. Angin , berikan khabar-khabar
bagaimana mengatasi usaha yang hamper pailit? Seperti banyak kejadian
akhir-akhir ini.ngeri aku, Ngin!
Kondisi
perekonomian Indonesia tidak akan terlepas dari pengaruh krisis
finansial global yang tengah terjadi. Walaupun pengaruhnya
berbeda di antara kalangan usaha, potensi pailit terhadap sebuah
perusahaan selayaknya diperhatikan oleh pemerintah. Termasuk
system kompetisi usaha. Namun aku tetap selalu berusaha memimpin
orgasinasi ini sampai darah penghabisan!
Angin,
saat ini aku banyak kehilanagan, meski banyak pula yang aku dapatkan,
tetapi aku merasa ini tidak adil. Aku kehilangan hal-hal krusial
terhadap kehidupan ini. Alhamdulillah aku selalu sholat 5 waktu untuk
memohon kepadaNya , semata-mata demi amanah yang aku emban ini.Aku Aku
kehilangan waktu bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan
orang-orang yang mungkin perlu keberadaanku.
Aku
tidak ingin seperti pemimpin kebanyakan saat ini. Kehilangan kendali
kemanusiaan, kendali social dan hamper tidak bisa mengendalikan dirinya
sendiri? Korupsi, perselingkuhan dan polah tingkah “haram” lainnya. Kau
bisa merasakan itu Angin? Aku yakin kau merasakan itu.Dalam ruang
imajinasiku ini, sengaja aku ingin bercengkrama denganmu Ngin, seperti
juga berdoa kepada Allah dzat yang Agung memohon baerokahnya, karena
hanya Dialah yang dapat berbuat segalanya di dunia ini. Kaupun dalam
kendaliNya khan?.
Meski
wujudmu hanya dapat aku rasakan, dan aku lihat dari riak gelombang
daun ilalang, setidaknya bebanku terasa ringan manakala persoalanku ini
telah aku bagikan kepadamu. Aku berharap engkau tetap menemani embun
pagi dan menggoyang-goyangkannya di pucuk daun ilalang, memberikan
kesegaran pada mahkluk Tuhan, dan jangan lupa jagalah bumi ini agar
tetap seimbang, tahanlah amarhamu, karena hembusan seporadis dan sangat
kuat dapat membahayakan aku dan segenap umat manusia di bumi ini.Salam
manis buatmu***Nangkris
Buku Catatan Sejarah, Sebuah Pilot Project (2-habis)
.....“Kalau kalian
ingin belajar sejarah dengan runtut, contohlah catatan buku ini. Semua
yang saya jelaskan ada semua dalam catatan buku ini” kata Pak Daud.(dari
kumpulan:“Di Sudut Sidomukti”)...selanjutnya...
Bag:2
“Karena
sejarah adalah pelajaran yang terkait waktu, maka masih ada kaitannya
dengan peristiwa terdahulu. Tidak apa-apa, seperti buku catatan ini, ada
lembar-lembar tempelan yang masih terkait waktu antara sejarah saat ini
dan sebelumnya” lanjut Pak Daud., membuat aku menjadi bangga.
Memang aku
selalu memberi tambahan dengan menempelkan catatan yang masih terkait
dengan catatan sebelumya. Tidak seperti teman-teman umumnya yang ditulis
di sembarang tempat. Dipojok buku, bahkan ditulis vertical
dicukup-cukupkan. Terkesan tidak rapi.
Pada akhirnya
Pak Daud meminjam buku itu saat mengajar di 4 ruang kelas 2 SMP. Aku di
II-1, sementara kelas yang lain yang aku maksud itu adalah kelas II-2,
II-3 dan II-4. Aku semakin bangga. Meski bermacam reaksi timbul dari
beberapa teman-temanku. Ada yang menyambutnya sinis dan menganggap
terlalu berlebihan. Karena Pak Daud memberikan instruksi agar membuat
kreasi catatan itu seperti buku milikku itu. Pokoknya buku catatan
sejarhaku seolah menjadi “pilot project” yang harus menjadi referensi.
Namun tak sediki yang memberi pujian dan ingin mencontohnya.
Satu-satunya
teman yang mempunyai hak istimewa meminjam itu adalah IR. Seolah-olah
buku komik “Gundala Putra Petir” , buku catatan sejarahku selalu di
bawa-baawa IR kemana-mana. Kadang terlalu berlebihan dengan
memamerkannya kepada rivalnya JT- CI (jangan tanya cewek
ini). Konon ibu IR terkesan dengan hasil karyaku ini. Dua penghargaan
sekaligus aku terima, dari IR dan ibunya, aku bangga sekali.(dari
catatan:Di Sudut Sidomukti)
Buku Catatan Sejarah, Sebuah Pilot Project
Kalau saja buku itu masih ada pasti akan aku tunjukkan kepada Anda. Buku tebal bergambar Jimmi Hendrix
, sengaja tidak aku sampul. Itu adalah kumpulan catatan sejarah mulai
kelas 1 hingga kelas 2, dan masih tersisa, cukup untuk dilanjutkan
hingga kelas 3 nanti. Hamper semua buku catatanku menjadi satu kesatuan
yang tak terpisahkan dari kelas 1 sampai kelas 3, terintegrasi dengan
bagus. Hal ini aku maksudkan disamping untuk kerapian hal ini juga
sangat membantu dalam mengukur kemampuan telusur satu matapelajaran dari
kelas satu hingga kelas dua.
Di dalam buku
itu adalah rangkuman diluar buku diktat. Setiap keterangan guru sejarah,
Pak Daud, selalu aku catat. Point demi point yang aku anggap itu
penting tak akan luput dalam catatanku. Ini penting. Karena guru yang
baik adalah tidak hanya mencari materi ulangan dari buku diktat tetapi
dari segala sumber bacaan lainnya, Koran dan catatan yang menjadi
keterangan dari buku diktat yang dijelaskan setiap mengajar di kelas.
Aku mempunyai corak tulisan yang bagus. Aku bisa menulis gedrik maupun latin dengan tegak, miring (italic).
Aku mencontoh tulisan Bapak yang bagus sekali. Sejak aktif sebagai
polisi sampai memimpin PEPABRI (Perkumpulan Purnawirawan ABRI) selalu
aku lihat dan sesekali aku contoh.
Dengan pangkat
terkahir sebagai AIPTU (Ajun Inspektur Satu atau LETTU (Letnan Satu) ,
dua strip di pundak, yang setingkat lagi menjadi Kapten, keberadaan
Bapak sangat dipentingkan saat purna. Sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola
Garuda. Sebagai Ketua Tennis Lapangan. Sebagai Ketua Bulutangkis ,
sebagai Ketua sebuah partai dan masih banyak lagi jabatan yang diemban
Bapak.
Karena buku
catatan sejarah ini begitu rapi dan komplit maka tak lepas jadi objek
pinjam meminjam antar teman. Baik teman cowok terlebih teman-teman
cewek. Hingga suatu saat Pak Daud, guru sejarah yang masih muda tetapi
rambutnya sudah banyak beruban, karena banyak menghafal sejarah
Indonesia dan Dunia. Mulai tahun perang , perjanjian bahkan tanggal
lahir tokoh pahlawan Nasional, saat mendekati IR, pacarku saat itu.
“Coba lihat
catatanmu, IR” pak Daud mendekati bangku IR sambil melepas kacamata
minusnya, dan mengambil buku catatan bergambar Jimmy Hendrix.
“Itu punya Yudi Pak” jelas IR. IR memanggilku dengan panggilan Yudi.
Tak ayal buku itu dibawa ke depan kelas oleh Pak Daud ditunjukkan kepada teman-teman.
“Kalau kalian
ingin belajar sejarah dengan runtut, contohlah catatan buku ini. Semua
yang saya jelaskan ada semua dalam catatan buku ini” kata Pak Daud.(dari
kumpulan:“Di Sudut Sidomukti”)
Kemenangan Instan Yang Berakhir Fatal!
Tubuhku tergeletak dengan kondisi setengah sadar di kursi rotan. Ibu bingung harus berbuat apa, melihat kondisi tubuhku dengan muka yang pucat sesekali meronta-ronta mengerang kesakitan. Ibu sangat mencemaskan keadaanku.
“Nanang…bangun
nak. Ini ibu” aku juga tetap tak merespon. Ini bukan bentuk
pembalasanku ketika aku selalu bercerita IR kepada Ibu yang selalu tidak
merespon.
Karena lama
aku terus tidak sadarkan diri ibu berteriak-teriak minta tolong. Ibu
menangis. Memikirkan anaknya yang “bagus” tergeletak lemas tak sadarkan
diri. Sementara aroma minyak kayu putih dicampur bawang merah meliputi
ruang teras dapur. Obat tradisional itu dioleskan Ibu di seputar perutku
yang mual , mulas, seperti diremas-remas dan panas.
Aku tidak tau,
apa perasaan Ibu saat itu. Apakah takut kehilangan aku. Aku yakin,
segala apa yang telah diperbuat Ibu kepadaku terus menghantuinya.
Perasaan menyesal saat mencubit pahaku (bhs.jawa:nyetol) bila aku tidak memberi kabar terlambat pulang sekolah. Ibu
ingin meminta maaf kepadaku? Atau berjanji tidak akan melakukan itu
lagi? Walaupun apa yang telah dialkukannya itu merupakan “madu” bagiku
untuk tidak berbuat itu dikemudian hari.
Bude Soekram,
ibunda Jon, datang membawa sabun yang sudah dibentuk seperti jari
telunjuk. Yang kemudian dimasukkan ke duburku. Aku tetap tak berreaksi.
Kakak permpuanku Mbak Eny, membawa kelapa muda yang dipanjatnya di
pekarangan depan rumah, orang jawa bilang degan ijo. Konon air kelapa
muda hijau ini dapat membunuh racun yang bersemayam ditubuh. Biasanya
digunakan untuk orang yang keracunan.
Perlah-perlahan
ibu memaksa mengguyur mulutku dengan degan ijo ini. Terus menerus. Ibu
pasti tak lupa berdoa agar aku segera siuman dari tragedy ini. Terus itu
Ibu lakukan seperti “menggelonggong” sapi potong , agar berat badan
sapi menjadi berat dan berharganyapun tentu mahal.
Ibu semakin cemas. Bapak dan kakak-kakakku yang lain tak ada di rumah. Sementara udara panas di kemarau awal itu menyengat wilayah pesisir di desaku.
“Hueeek….huweekkk…huweekk”
aku muntah. Ini sebagai reaksi air kelapa muda yang hangat mulai
merasuk dan menyejukkan rongga perutku. Ada beberapa buah biji
cabai rawit dalam muntahanku. Jelas biji cabai rawit itu tak tercerna
oleh ususku. Adajuga mangga muda yang juga tak tercerna dengan sempurna.
Aku
berkeringat dan mulai siuman. Ibu memciumiku berkali-kali dan…menangis!
Bude Soekrampun kelihatan agak lega. Ibu menyeka keringat yang mengguyur
tubuhku sambil menyeka kening dan melepas kaos bertulisan Bali yang
saat itu kukenakan. Ibu mencium aku lagi. Aku masih lemas dan masih
terasa mual dan sedikit pusing. Hanya kakaku Mbak Eny keliahtan masih
terus cemas. Betapa tidak, Mbak Eny lah yang mengajak lomba makan rujak
mangga muda dengan garam dan cabe. Dalam lomba itu Mbak Eny membuat
suatu ketentuan siapa yang lebih cepat menghabiskan irisan
mangga mudah yang telah ditakar sama, dan merasa tidak pedas itulah
pemengnya. Dasar aku. Yang selalu ingin menjadi jagoan dan terus ingin
menjadi terbaik dan menang, segala cara aku tempuh. Termasuk dalam lomba
ini.
Kulihat Mbak Eny, saat itu, dengan
seksama mengunyah irisan mangga. Dan kulihat irisan mangga ditangannya
juga masih banyak . Aku mulai memasang strategi. Aku mengunyah mangga
dan cabe rawit ala kadarnya yang penting segera masuk dalam rongga
perutku dengan cepat. Bahkan cabe rawit dan garam aku telan begitu saja
tanpa aku kunyah. Begitu aku ulang terus menerus tanpa mengetahui akibat
yang akan aku rasakan. Pada ahirnya aku hamper saja mengalami hal yang
fatal. Dan membuat Ibu cemas melihat akibat dari kecerobohanku itu.
Ibu sempat
marah kepada kami, saat aku ceritakan sebab akibat aku menjadi lemas
seperti batangan tebu yang telah digiling diambil airnya.
Akan selalu
aku ingat. Kemenangan dengan proses yang instant akan membuahkan hal
yang fatal. Kemenangan harus melalui proses yang telah ditentukan. Tanpa
ada penyimpangan sedikitpun. Namun terkadang manusia diburu oleh
target-target kemenangan dengan cara-cara instant. Sehingga ada beberapa
proses yang dilewatkan. Bahakan sedikitpun tidak melalui proses.
Akhirnya
kemenangan instant ini banyak memberikan filsofi bagiku untuk memamahami
proses yang harus ditaati. Hampir saja kemenangan yang aku capai dalam
ceritaku ini membuat hal yang fatal. Maaf Ibu!
Semua
kemenangan tentulah direncanakan. Dengan strategi apa kemenangan itu
bisa dicapai, tergantung siapa lawan kita. Muhammad Ali, petinju
legendaries Amerika diberi julukan `si mulut besar` lantaran dia selalu
membuat psywar dengan mengolok-olok terlebih dahulu setiap lawan mainnya
di ring tinju.(dari catatan:Di Sudut Sidomukti)
Cinta , Mengapa Dapat Menembus Multiruang?
Ketika perbedaan sudah ada sejak lahir
pada diri setiap manusia, maka akan semakin terasa tatkala berada dalam
kebersamaan. Perbedaan hak hakiki setiap manusia. Namun pada dasarnya
kehidupan ini bisa berlanjut oleh karena perbedaan yang saling mengisi
satu sama lain.
Sepasang remaja yang baru
mengerti arti cinta dengan lawan jenisnya , awalnya tak akan mengerti
jika cinta mereka harus tumbuh dan merekapun saling membutuhkan. Tanpa
disadari, semakin dewasa tingkat hubungan itu semakin terasa bawa banyak
perbedaan dalam status hubungan ini. Seorang pria dan seorang wanita,
keyakinan yang berbeda, tetapi "diasah" oleh kebiasaan saling mengenal
satu sama lainnya akhirnya perbedaan ini dapat menyatu, namun ada satu
perbedaan yang berkata lain.
Menahan Muntah
Ketika aku simpan
sumpah serapah dan kukulum di bibir, tak bisa. Karena suasana di luar
jendela hati semakin buas. Kebohongan yang reot, pencintraan yang
semakin melorot dan penderitaan kaki-kaki kasar di tanah gersang hanya jadi catatan usang.
Baju kumal,
perut tipis bersandal tak pernah diurus meski hanya sejurus. Sekarang
aku mual dan menahan muntah! Melihat gerakan-gerakan slow motions di
panggung sandiwara gila. Meski pemerannya tampan berdasi tetapi
dialognya pahit getir bagai petir. Mendekatlah akan kutonjok! dengan
kata-kata logis dan berprikemanusiaan, agar lehernya yang kaku dapat
menoleh ke keranjang sampah sebelah.
Mencari
kebenaran di negeri ini berliku-liku, orang jahat bergandeng tangan
dengan orang cerdik. Di langit ada orang-orang kaya raya di
bumi hanya kaum sepi rejeki tertambat di rel kereta. Kritik pedas sudah
menyublim, seperti hilangnya pedas sambal di kakilima karena harga cabe
melambung. Masihkah kita akan bicara dosa bila masih
tertawa di depan kaca? Udara penuh dosa, ada menteri tidak merokok kena
kanker paru? Masihkah orang bijak bayar pajak, bila uagnnya di kotak
perompak?
Aku
hanya akan berlindung pada Tuhan, akan kucari kebenaran seperti
beningnya embun pagi saat debu masih tidur di ruang pengap menyentuh
bibir bumi. Kalau ada kabar dari kupu-kupu tentang kedamaian, akan aku
nyanyikan seloka indah di taman bunga agar kembang-kembang mekar
sumekar.(Nangkris)
Cinta Milik Siapa Saja
Kaos oblong merk swan kumal. Awalnya warna kaos itu jelas putih dan
bersih. Tetapi sekarang saat kaos itu melekat ditubuh Paidi berubah
menjadi coklat. Kalau dulu ketika keluar dari pabriknya tentu kaos itu
berbau khas katun. Tetapi entah sekarang saat Paidi menggunakannya kaos
itu berbau apa?
Saat melihat jam di dinding kantor pasar, menunjukkan pukul setengan enam pagi, Paidi mulai cemas. Karena tugas rutinnya sebagai tukang sapu di pasar “tiban” itu belum kelar. Matanya sayu karena mengantuk. Pikiran masih gusar, tidak seperti biasanya, tegar dan selalu riang meski dengan gaji 200 ribu sebulan itu atas iuran pedagang di pasar tiban itu.
Sudah beberapa orang pedagang menyapanya tetapi tugas pokoknya juga belum selesai. Ada perasaan yang memalaskan untuk bekerja. Ada tugas yang memerlukan keberanian mental menyelesaikannya. Kalau tidak sendi-sendi kehidupanyapun akan rapuh!
Paidi 28 tahun, SD pun tak tamat. Orang tuanya dua-dua telah tiada. Saudara satu-satunnya kehidupannya tak lebih baik dari padanya. Kepada siapa menyelesaikan kasus berat daripada menyapu 20 kali halaman pasar ini?, pikir Paidi. Tanpa terasa dia terdiam dan pikirannya bergejolak ketika suatu ketika mengenal Salmah, anak pedagang buah di pilar tengah. Ya Salmah!
Dia tak bisa mengutarakan dan memberikan lambang cinta kepada Salmah, seperti Shah Jehan membangun Taj Mahal kepada Mumtaz Ul Zamani gadis yang kemudian menjadi isterinya. Dia bukan penyair yang menyuarakan cintanya lewat puisi. Dia hanya seorang tukang sapu yang kumal dan bau. yang mempunya naluri cinta , sama seperti Romeo kepada Julliet.
Malam, suatu ketika dia mulai mengendap-ngendap menuju pilar tengah. Malam yang sangat menyiksa seumur-umur. Bahkan dia enggan tertidur juga bermimpi. Paidi hanya bisa membayakangkannya Salmah! Gadis pilar tengah yang sangat menawan dan mengguncangkan hatinya. Tak berani berbuat apa-apa karena terhalang dosa.
Diambillah sepotong buah mentimun kecil yang sudah layu. Digoreskannya laksana pena pada media tembok pasar yang sudah tak pernah dikapur. Menggambar sebisanya, Laksana Leonardo Da Vinci melukiskan Monalisa yang misterius itu, dengan harapan Salmah mengerti apa sebenarnya makna gambar itu. Bagi Paidi pilar tengah pasar menjadi sebuah tempat yang romantis, semenjak kehadiran Salmah, anak pedagang buah.
Ach , Salmah. Paidi melamun. Gadis desa yang menyimpan kerinduan. Menyimpan harapan, terkadang meneduhkan hati kala selintas memandangya.Seperti layaknya Jack Dawson menumbuhkan benih cintanya kepada Rose dalam cerita Titanic. Indah sekali dunia.
Tetapi hanya kandas saja setiap malam tiba. Selalu gusar dan bahkan gemetar ketika bersimpangan dengan gadis keibuan itu. Apalagi, ketika melihat sosoknya Paidi sangat pesimis diterima oleh Salmah, apalagi bapaknya yang keras. Malam bagi Paidi hanya selingan dalam hidup yang berkelanjutan, besok, sekarang dan yang akan datang. Andai saja tanpa malam, masih akankah cinta itu tumbuh?
Ternyata, cinta milik siapa saja yang hidup di dunia ini. Tidak memandang profesi, martabat dan derajadnya. Cinta memang universal dan berlaku bagi siapa saja. Kadang juga buta dan egois bahkan menyengsarakan...naudzubillah! Peliahralah cintamu! (fiksi-nanang kristyo m, ilustrasi: 3.bp.blogspot.com/.../s400/Sepasang-Sejoli.jpg)
Saat melihat jam di dinding kantor pasar, menunjukkan pukul setengan enam pagi, Paidi mulai cemas. Karena tugas rutinnya sebagai tukang sapu di pasar “tiban” itu belum kelar. Matanya sayu karena mengantuk. Pikiran masih gusar, tidak seperti biasanya, tegar dan selalu riang meski dengan gaji 200 ribu sebulan itu atas iuran pedagang di pasar tiban itu.
Sudah beberapa orang pedagang menyapanya tetapi tugas pokoknya juga belum selesai. Ada perasaan yang memalaskan untuk bekerja. Ada tugas yang memerlukan keberanian mental menyelesaikannya. Kalau tidak sendi-sendi kehidupanyapun akan rapuh!
Paidi 28 tahun, SD pun tak tamat. Orang tuanya dua-dua telah tiada. Saudara satu-satunnya kehidupannya tak lebih baik dari padanya. Kepada siapa menyelesaikan kasus berat daripada menyapu 20 kali halaman pasar ini?, pikir Paidi. Tanpa terasa dia terdiam dan pikirannya bergejolak ketika suatu ketika mengenal Salmah, anak pedagang buah di pilar tengah. Ya Salmah!
Dia tak bisa mengutarakan dan memberikan lambang cinta kepada Salmah, seperti Shah Jehan membangun Taj Mahal kepada Mumtaz Ul Zamani gadis yang kemudian menjadi isterinya. Dia bukan penyair yang menyuarakan cintanya lewat puisi. Dia hanya seorang tukang sapu yang kumal dan bau. yang mempunya naluri cinta , sama seperti Romeo kepada Julliet.
Malam, suatu ketika dia mulai mengendap-ngendap menuju pilar tengah. Malam yang sangat menyiksa seumur-umur. Bahkan dia enggan tertidur juga bermimpi. Paidi hanya bisa membayakangkannya Salmah! Gadis pilar tengah yang sangat menawan dan mengguncangkan hatinya. Tak berani berbuat apa-apa karena terhalang dosa.
Diambillah sepotong buah mentimun kecil yang sudah layu. Digoreskannya laksana pena pada media tembok pasar yang sudah tak pernah dikapur. Menggambar sebisanya, Laksana Leonardo Da Vinci melukiskan Monalisa yang misterius itu, dengan harapan Salmah mengerti apa sebenarnya makna gambar itu. Bagi Paidi pilar tengah pasar menjadi sebuah tempat yang romantis, semenjak kehadiran Salmah, anak pedagang buah.
Ach , Salmah. Paidi melamun. Gadis desa yang menyimpan kerinduan. Menyimpan harapan, terkadang meneduhkan hati kala selintas memandangya.Seperti layaknya Jack Dawson menumbuhkan benih cintanya kepada Rose dalam cerita Titanic. Indah sekali dunia.
Tetapi hanya kandas saja setiap malam tiba. Selalu gusar dan bahkan gemetar ketika bersimpangan dengan gadis keibuan itu. Apalagi, ketika melihat sosoknya Paidi sangat pesimis diterima oleh Salmah, apalagi bapaknya yang keras. Malam bagi Paidi hanya selingan dalam hidup yang berkelanjutan, besok, sekarang dan yang akan datang. Andai saja tanpa malam, masih akankah cinta itu tumbuh?
Ternyata, cinta milik siapa saja yang hidup di dunia ini. Tidak memandang profesi, martabat dan derajadnya. Cinta memang universal dan berlaku bagi siapa saja. Kadang juga buta dan egois bahkan menyengsarakan...naudzubillah! Peliahralah cintamu! (fiksi-nanang kristyo m, ilustrasi: 3.bp.blogspot.com/.../s400/Sepasang-Sejoli.jpg)
Musnahnya Sebuah Hakekat
Diilhami dari sebuah lagu dari Ebit G. Ade "Tentang Seorang Sahabat"
Masuk ke salah satu ruangan rumah Bhanu yang berada di pinggir jalan raya terlihat seperangkat gamelan jawa. Tertata rapi meskis sudah jarang digunakan. Lantai rumah masih menggunakan bin teraso. Sepertinya rumah Belanda sebelumnya. Tembok setiap ruangan pilar-pilarnya besar dan beratap tinggi. Bila masuk ke beranda rumah ini terasa sejuk, karena jarak rumah dengan jalan raya dibatasi dengan berbagai tumbuhan produktiv seperti buah mangga, jambu air dan lain-lain.
Bhanu hidup hanya dengan seorang adiknya Wisnu, serta keduaorangtuanya yang berasal dari Jawa Tengah. Ibunya sopan sekali dengan kromo inggil yang halus, kadang tak tahu apa arti yang diucapkannya. Demikian pula bapaknya yang seorang guru dan pelatih gamelan. Sepintas dapat diyakini keluarga ini masih punnya titah bangsawan dan ningrat Jawa Tengah yang masih memegang teguh adat istiadat Jawa.
Semua aturan hirarki antara anak dan orang tuan, mas dan adhi masih saja terpelihara dengan rapi dalam suasana rumah ini. Karena kalau tidak ibu pasti akan menegur dengan halus dan itu harus dituruti. Kadang juga bisa marah meskipun dengan kata yang halus tetapi bermakna dalam bagi kedua puteranya itu. Bahkan pernah Wisnu sepulang sekolah membuka sepatu kemudian menaruhnya dengan asal-asalan tidak tertata ditempat yang telah disediakan, ibu marah besar kepada Ipah pembatunya karena menolong merapikan sepatu Wisnu yang tidak tertata rapi.
Ke sekolah sengaja tidak diberi uang jajan dengan alasan takut membeli jajan sekolah yang tidak bersih dan tidak hygienis. Air minum dan kue sanck disediakan dari rumah. Ibu trauma dengan kejadian yang dialami Bhanu. Sepulang sekolah muntah-muntah karena diajak minum es tape dipinggir jalan oleh teman-teman SMA nya dulu. Baru ketahuan dan matur ibu saat diinfus di rumah sakit milik perkebunan.
Meningjak dewasa saat ini ibu semakin cerewet. Dengan status sosial yang diemban Bhanu sebagai karyawan sebuah bank negara, setiap kali selalu terngiang nama Anggraeni. Gadis yang juga masih “berbau” keraton puteri bapak Sudrajad yang tidak lain adalah teman semasa muda keluarga ini.
“Ini dapat kiriman sulaman buat almari hias, dari Bu Drajad`` kata ibu ketika Bhanu baru pulang kerja.
“Susah loh le (le: sebutan untuk anak lelaki) buat seperti ini neh ora tlaten” sambung ibu. Bhanu diam saja meski tahu ibu ingin respon tentang oleh-oleh yang Bhanu yakin itu pasti dibuat oleh Anggraeni, sambil terus mengunyah sambal goreng kesuakaannya.
“Kamu kapan ke Jogja le ?`` rayu ibu pada Bhanu
“Bune, Bhanu masih belum bisa dalam bulan ini” sahut Bhanu terkesan malas.
“Njur kapan?”
“Nantilah Bune, pasti Bhanu ke Jogja”
“Mampir yo ke rumah Bu Drajad. Ora enak dikasih oleh-oleh ora mbalesi”
“Di paket saja Bune” sanggah Bhanu dengan nekad.
“Loh kowe opo ora kangen Eny (Anggraeni) toh”
Inilah sebetulanya yang ingin ibu sampaikan pada Bhanu dari seluruh isi percakapan itu. Bhanu sudah tahu trik-trik ibu masalah usahanya untuk mendekatkan gadis Jogya itu dengannya.
“Injih Bu” itu saja jawaban Bhanu
***
Setiap gerak langkah pria gagah dan tampan ini kelihatan kaku. Irama kediktatoran ibundanya melekat erat dalam setiap geraknya. Sementara perjalanan panjang yang tidak pernah diceritakannya pada ibu tentang hubungan asmaranya dengan Sukarsih puteri Kepala Kantor Pos, ada halangan bagai tembok raksasa di China untuk menceritakan. Bagaiaman ibu tahu nanti apabila pria putih bersih ini telah menjalin hubungan dan telah mencampakkan Anggraeni pilahan Bune?
Hingga pada suatu saat kebetulan ketika bulan purnama tengah malam sengaja Bhanu mengajak ibunya duduk di teras rumah tua yang kokoh, keinginannya terpaksa tertumpah atas kejujuran hatinya untuk mencintai Sukarsih.
“Bune pangapunten (maaf). Kejujuran cinta dalam hati Bhanu berbicara lain”
“Makasudmu opo to Le?”
“Sebagai lelaki Bhanu punya dasar cinta yang hakiki pada seorang gadis”
“Ngomongmu koq malah aneh to Le.Kemudian maksudmu itu apa?” diucapkan ibu dengan lembut tetapi dalam.
“Bune, ijinkan Bhanu mencintai wanita yang bukan Angraeni” Bhanu agak berkeringat nerves.
“Njur piye? Bagaimana ibu harus mengatakan ini kepadamu sebagai anak yang telah ibu besarkan?” perkataan ibu kali ini tidak sehalus biasanya.
Suasana hening sejenak. Bhanu mulai kacau. Dia mempunyai hakiki cinta yang mendasar, sementara yang dihadapinya saat ini adalah orang yang telah membesarkannya bersama Wisnu adhinya. Teringat Bhanu saat keluarga besar Sudradjat mengunjunginya beberapa waktu lalu. Anggraeni gadis putih, berambut ikal khas keraton, dengan alis wulan naggal sepisan (bagai bulan jawa tanggal satu untuk alis yang indah). Keluarga ini telah membentuk sebuah keputusan untuk menjodohkan Bhanu dengan Anggraeni kelak.
“Mohon ampun Bune, tolong Bhanu Bune.Ijinkan Bhanu mencintai Sukarsih“
“Bhanu, tidakkah kamu merasa kasihan pada Bapak, bagaimana pertalian ini sudah dijalin.Iki ora biso ditawar Le“
Tidak tahan dan agar tidak larut dalam emosi, perlahan Bhanu pamit pada ibu dan masuk dalam kamar. Pikirannya melayang. Terbayang Sukarsih yang terakhir ditemuinya di toko buku Gramedia. Gadis sederhana yang telah mengguncakan hati. Dia telah mengerti makna kebersamaan yang telah hampir satu tahun dilaluinya bersama Bhanu. Begitu dewasanya Sukarsih menghadapi rintangan keluarga lelaki yang dikenalnya ini. Bagi Sukarsih, rumah Bhanu yang asri itu tak ubahnya seperti neraka. Pastilah kekecewaan yang akan didapatinya bila harus menemui ibu di dalam sana. Tak akan ada artinya. Bahkan Sukarsih sangat menyayangkan sikap keluarga itu meski sangat memaklumi adat istiadat jawa « kuno » itu.
Hal yang sangat disayangkan ketika suatu saat Bhanu mengatakan bahwa jiwanya telah kehilangan hakiki sebagai lelaki. Jiwanya telah terampas oleh ikatan adat yang masih dipelihara. Bahkan pada akhirnya Bhanu harus kehilangan Sukarsih, harus kehilangan segala-galanya. Bibirnya kini keluh setiap bertemu gadis. Biarlah semua disimpannya dalam kekeluan di dadanya. Bahkan kejantanan yang seharusnya dia miliki kini nampak pudar bagai lampu lentera yang terombang ambing angin. Hari-harinya hanya menghitung hari tanpa sedikitpun mengurus seperti apa kehidupan di depan sana ? (Fiksi :Nanang Kristyo)
Masuk ke salah satu ruangan rumah Bhanu yang berada di pinggir jalan raya terlihat seperangkat gamelan jawa. Tertata rapi meskis sudah jarang digunakan. Lantai rumah masih menggunakan bin teraso. Sepertinya rumah Belanda sebelumnya. Tembok setiap ruangan pilar-pilarnya besar dan beratap tinggi. Bila masuk ke beranda rumah ini terasa sejuk, karena jarak rumah dengan jalan raya dibatasi dengan berbagai tumbuhan produktiv seperti buah mangga, jambu air dan lain-lain.
Bhanu hidup hanya dengan seorang adiknya Wisnu, serta keduaorangtuanya yang berasal dari Jawa Tengah. Ibunya sopan sekali dengan kromo inggil yang halus, kadang tak tahu apa arti yang diucapkannya. Demikian pula bapaknya yang seorang guru dan pelatih gamelan. Sepintas dapat diyakini keluarga ini masih punnya titah bangsawan dan ningrat Jawa Tengah yang masih memegang teguh adat istiadat Jawa.
Semua aturan hirarki antara anak dan orang tuan, mas dan adhi masih saja terpelihara dengan rapi dalam suasana rumah ini. Karena kalau tidak ibu pasti akan menegur dengan halus dan itu harus dituruti. Kadang juga bisa marah meskipun dengan kata yang halus tetapi bermakna dalam bagi kedua puteranya itu. Bahkan pernah Wisnu sepulang sekolah membuka sepatu kemudian menaruhnya dengan asal-asalan tidak tertata ditempat yang telah disediakan, ibu marah besar kepada Ipah pembatunya karena menolong merapikan sepatu Wisnu yang tidak tertata rapi.
Ke sekolah sengaja tidak diberi uang jajan dengan alasan takut membeli jajan sekolah yang tidak bersih dan tidak hygienis. Air minum dan kue sanck disediakan dari rumah. Ibu trauma dengan kejadian yang dialami Bhanu. Sepulang sekolah muntah-muntah karena diajak minum es tape dipinggir jalan oleh teman-teman SMA nya dulu. Baru ketahuan dan matur ibu saat diinfus di rumah sakit milik perkebunan.
Meningjak dewasa saat ini ibu semakin cerewet. Dengan status sosial yang diemban Bhanu sebagai karyawan sebuah bank negara, setiap kali selalu terngiang nama Anggraeni. Gadis yang juga masih “berbau” keraton puteri bapak Sudrajad yang tidak lain adalah teman semasa muda keluarga ini.
“Ini dapat kiriman sulaman buat almari hias, dari Bu Drajad`` kata ibu ketika Bhanu baru pulang kerja.
“Susah loh le (le: sebutan untuk anak lelaki) buat seperti ini neh ora tlaten” sambung ibu. Bhanu diam saja meski tahu ibu ingin respon tentang oleh-oleh yang Bhanu yakin itu pasti dibuat oleh Anggraeni, sambil terus mengunyah sambal goreng kesuakaannya.
“Kamu kapan ke Jogja le ?`` rayu ibu pada Bhanu
“Bune, Bhanu masih belum bisa dalam bulan ini” sahut Bhanu terkesan malas.
“Njur kapan?”
“Nantilah Bune, pasti Bhanu ke Jogja”
“Mampir yo ke rumah Bu Drajad. Ora enak dikasih oleh-oleh ora mbalesi”
“Di paket saja Bune” sanggah Bhanu dengan nekad.
“Loh kowe opo ora kangen Eny (Anggraeni) toh”
Inilah sebetulanya yang ingin ibu sampaikan pada Bhanu dari seluruh isi percakapan itu. Bhanu sudah tahu trik-trik ibu masalah usahanya untuk mendekatkan gadis Jogya itu dengannya.
“Injih Bu” itu saja jawaban Bhanu
***
Setiap gerak langkah pria gagah dan tampan ini kelihatan kaku. Irama kediktatoran ibundanya melekat erat dalam setiap geraknya. Sementara perjalanan panjang yang tidak pernah diceritakannya pada ibu tentang hubungan asmaranya dengan Sukarsih puteri Kepala Kantor Pos, ada halangan bagai tembok raksasa di China untuk menceritakan. Bagaiaman ibu tahu nanti apabila pria putih bersih ini telah menjalin hubungan dan telah mencampakkan Anggraeni pilahan Bune?
Hingga pada suatu saat kebetulan ketika bulan purnama tengah malam sengaja Bhanu mengajak ibunya duduk di teras rumah tua yang kokoh, keinginannya terpaksa tertumpah atas kejujuran hatinya untuk mencintai Sukarsih.
“Bune pangapunten (maaf). Kejujuran cinta dalam hati Bhanu berbicara lain”
“Makasudmu opo to Le?”
“Sebagai lelaki Bhanu punya dasar cinta yang hakiki pada seorang gadis”
“Ngomongmu koq malah aneh to Le.Kemudian maksudmu itu apa?” diucapkan ibu dengan lembut tetapi dalam.
“Bune, ijinkan Bhanu mencintai wanita yang bukan Angraeni” Bhanu agak berkeringat nerves.
“Njur piye? Bagaimana ibu harus mengatakan ini kepadamu sebagai anak yang telah ibu besarkan?” perkataan ibu kali ini tidak sehalus biasanya.
Suasana hening sejenak. Bhanu mulai kacau. Dia mempunyai hakiki cinta yang mendasar, sementara yang dihadapinya saat ini adalah orang yang telah membesarkannya bersama Wisnu adhinya. Teringat Bhanu saat keluarga besar Sudradjat mengunjunginya beberapa waktu lalu. Anggraeni gadis putih, berambut ikal khas keraton, dengan alis wulan naggal sepisan (bagai bulan jawa tanggal satu untuk alis yang indah). Keluarga ini telah membentuk sebuah keputusan untuk menjodohkan Bhanu dengan Anggraeni kelak.
“Mohon ampun Bune, tolong Bhanu Bune.Ijinkan Bhanu mencintai Sukarsih“
“Bhanu, tidakkah kamu merasa kasihan pada Bapak, bagaimana pertalian ini sudah dijalin.Iki ora biso ditawar Le“
Tidak tahan dan agar tidak larut dalam emosi, perlahan Bhanu pamit pada ibu dan masuk dalam kamar. Pikirannya melayang. Terbayang Sukarsih yang terakhir ditemuinya di toko buku Gramedia. Gadis sederhana yang telah mengguncakan hati. Dia telah mengerti makna kebersamaan yang telah hampir satu tahun dilaluinya bersama Bhanu. Begitu dewasanya Sukarsih menghadapi rintangan keluarga lelaki yang dikenalnya ini. Bagi Sukarsih, rumah Bhanu yang asri itu tak ubahnya seperti neraka. Pastilah kekecewaan yang akan didapatinya bila harus menemui ibu di dalam sana. Tak akan ada artinya. Bahkan Sukarsih sangat menyayangkan sikap keluarga itu meski sangat memaklumi adat istiadat jawa « kuno » itu.
Hal yang sangat disayangkan ketika suatu saat Bhanu mengatakan bahwa jiwanya telah kehilangan hakiki sebagai lelaki. Jiwanya telah terampas oleh ikatan adat yang masih dipelihara. Bahkan pada akhirnya Bhanu harus kehilangan Sukarsih, harus kehilangan segala-galanya. Bibirnya kini keluh setiap bertemu gadis. Biarlah semua disimpannya dalam kekeluan di dadanya. Bahkan kejantanan yang seharusnya dia miliki kini nampak pudar bagai lampu lentera yang terombang ambing angin. Hari-harinya hanya menghitung hari tanpa sedikitpun mengurus seperti apa kehidupan di depan sana ? (Fiksi :Nanang Kristyo)
Prahara Lentera Sutra
Prahara Lentera Sutra.
Sebuah Cerpen : NANGKRIS
Emak dan Yuk Mi dua orang ibu dan anak yang harus selalu sibuk setiap pagi menjelang anak-anak ke sekolah. Karena keluarga sederhana ini hidup dari hasil menjual jajanan anak sekolah disamping pekerjaan Lik Sutra sebagai petugas kebersihan sekolah. Lik Sutra adalah suami Emak yang usianya jauh lebih muda dari usia Emak.
Konon menurut cerita tetangga, lamaran Lik Sutra salah alamat. Dia meminang Yuk Mi tetapi justru yang jadi isterinya adalah Emak, janda beranak satu itu.Saat dilamar Yuk Mi sebenarnya sudah akan dinikahkan dengan pria pilihan Emak, tetapi rencana itu batal hingga akhirnya Yuk Mi harus menjadi perawan tua.Patah hati mungkin?
Rumah keluarga ini mempunyai beberapa petak kamar berjajar. Paling Timur ada gudang yang difungsikan sebagai dapur kemudian sebelahnya ada ruang untuk parkir sepeda. Sebelahnya lagi adalah sebuah kamar yang ditempati kos Mas Herman, seorang pegawai negeri yang baru bekerja beberapa bulan. Sementara Yuk Mi memang berada di petak paling pojok sebelah kamar Lik Sutra .
Aku tahu betul kesibukan keluarga ini termasuk seorang pemuda yang kost di rumah itu. Karena aku hampir setiap hari menjeput Lik Sutra ke rumahnya dan menemani selama perjalanan ke sekolah. Lik Sutra membawa barang-babarang dagangan dengan sebuah sepeda kebo tua yang sudah berkarat. Ada sarung goni di boncengan sepeda itu sebagai tempat alat-alat dapur yang diperlukan untuk berjualan di warung sekolah.
”Gimana Kris, nanti malam kita cari lagi?” Lik Sutra mengawalai pembicaraan kami di sepanajng jalan setapak menuju sekolah Dasar Widodo
”Boleh.Tapi jangan sering ditinggal Pak Lik” jawabku.
”Iya, Pak Lik harus menumbuk bumbu pecel khan, kalau tidak, diomeli eMak” saut Lik Sutra sambil memainkan rokok upetnya di bibirnya yang hitam. Wajah tua Lik, mirip Franconero, bintang film koboi. Jenggot dan cambangnya tajam.
Lik Sutra sering meninggalkan kami berempat, aku, Tito, Karno dan Agus setiap mencari jangkrik di kebun jagung milik haji Fadholi. Suasana gelap apabila malam dipenuhi suara nyaring jangkrik-jangkrik yang menjadi sasaran kami di kebun itu. Apabila kami mengeluh ketakutan karena ditingalnya, maka Lik Sutra selalu memberi semangat kepada kami dengan petuahnya.
”Laki-laki tidak boleh jadi penakut. Rasa takut itu hanya diciptakan oleh pikiran kalian” kata Lik Sutra suatu saat.
Pernah kami dimarahi Emak karena Lik Sutra mengajak kami mencari jangkrik.Mungkin saja Lik Sutra ada masalah dengan Emak. Kami kecewa saat itu tidak membawa seekor jangkrikpun. Namun rencana nanti malam kami harus mendapatkan jangkrik ”jalitheng” yang selalu menjadi incaran kami.
***
Malam ini kami sudah siap mencari jangkrik di kebun jagung haji Fadholi. Dua obor sudah kami siapkan. Aku, Tito dan Karno satu obor, Agus bersama Lik Sutra. Perjalanan kami menuju kebun jagung memerlukan waktu setengah jam. Jalan setapak, sebelah kanan sebuah sungai yang deras airnya. Sungai inilah yang mengairi seluruh sawah di dusun kami. Kebun tebu dan jangung berada di ujung timur setelah areal persawahan.
”Aku nggak nonton lagi film Mannix malam ini” keluh Tito, mengawali pembicaraan setelah setengah perjalanan. ”Aku malu, setiap nonton di rumah pak Lurah, sering ketiduran” lanjut Tito.
”Kalau kamu mau nonton kenapa kamu ikut?,nonton saja” celetuk Karno.
”Jangan terlalu sering nonton TV di rumah Pak Lurah, neneknya cerewet” saran Lik Sutra kepada Tito, mungkin itu juga kepada kami yang juga sering nonton TV di rumah Pak Lurah, satu-satunya di desa kami. TV hitam putih 14 inci merek Johnson yang tutupnya dapat dilipat model harmonika.
”Habis Dunia Dalam Berita sudah pulang, lagian sungkan kalau dibuatkan kopi” lanjut Lik Sutra.
Kami sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan kadang Lik Sutra cerita yang lucu-lucu sehingga membuat kami terpingkal-pingkal. Agus pernah terjungkal di pematang tanaman tebu yang lumayan tinggi. Gara-garanya kami harus menuruti komando Lik Sutra selama berjalan di pematang. Agus selalu berada diurutan ke dua dari depan setelah Lik Sutra. Sesuai komando Lik Sutra, obor baru boleh dinyalakan setelah sampai di kebun jagung.Mungkin ini sebuah efisiensi. Sehingga perjalanan di suasana gelap gulita itu hanya disinari cahaya bulan dan bayangannya di bawah sungai.
”Awas melompat” kata Lik Sutra, ketika melewati batasan pematang, kamipun dibelakangnya ikut melompat.
Suatu ketika, sial, Agus yang berada di urutan kedua itu terjungkal ketika ada pembatas pematang Lik Sutra justru tidak memberi komando,kami melihat nampak langkah Lik Sutra memang tenang. Agus melangkah juga tenang sekali.
”Jegurrrr...” Agus terjatuh ke sungai.
Mengetahui Agus terjatuh, Lik Sutra malah tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya memang disengaja. Tapi kami tetap larut dengan canda dan tawa, seperti larut malam yang menjemput pejalanan ini.Malam ini kami mendapat enam jangkrik jantan yang bagus-bagus dengan bunyi yang nyaring sekali. Agus telah menyiapkan tempat yang terbuat dari bambu yang dipetak-petak seperti rumah tingkat, untuk tempat jangkrik hasil kami masing-masing. Bersyukur Lik Sutra setia menemani hingga pencarian jangkri usai malam ini.
”Sudah, simpanlah jangkrik-jangkrik itu, besok setelah kamu belajar kita cari lagi yang bagus” kata Lik Sutra, sambil membasuh tangannya yang berbau minyak tanah dari obor yang terbuat dari bambu itu.
Lentera obor yang dihasilkan dari batang bambu dengan sumbu kain sobekan kaos itu sebagai lentera yang memberi penerangan bagi kami untuk mencari jangkrik. Pernah suatu malam membawa senter milik bapak yang berbaterei delapan, tapi hilang jatuh di sungai.
Begitulah dalam setiap kesempatan, kami memang anak-anak desa yang penuh kebersamaan apalagi dengan Lik Sutra yang sudah seperti pak lik kami sendiri. Penuh humor, sabar dan sering memberi kami makanan.
***
Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kami sangat kesal pada Lik Sutra. Rokoknya ketinggalan dan harus kembali ke rumah, perjalanan baru saja beberapa langkah. Sebenarnya setiap berangkat mencari jangkrik, kami penuh kekhawatian ditinggal di kegelapan malam oleh Lik Sutra. Katanya mau kembali dan bergabung tetapi ternyata malah pulang dan tidak kembali. Meski kadang Lik Sutra membawakan kami makanan kecil seperti krupuk,kacang saat meninggalkan kami berempat, tetapi itu tetap membuat kesal.Lebih-lebih Agus merasa sangat kesal.
”Kalau hanya untuk ditinggal, kenapa Pak Lik mengajak mencari jangkrik!” keluh Agus.
Aku memahami perasaan Agus. Karena Lik Sutra sebagai partner mencari jangkrik sering meninggalkannya. Ini juga merupakan kekesalan kami berempat. Terkadang timbul niatan kami untuk menolak ajakan Pak Lik Sutra. Tapi kami sudah terlanjur senang dengan petualangan ini. Melihat eksotisnya pucuk-pucuk daun padi yang ditebari cahaya bulan. Ujungnya menari-nari kian kemari seolah memberi salam menyambut kehadiran kami. Suara katak, suara serangga malam, bagi kami itu adalah suara-suara indah.
Lokasi malam di areal persawahan ini pasti masih lebih indah dari Taman Nasional Kakadu, sebelah timur Darwin,Australia. Menurut cerita Pak Broto tetanggaku yang narsis, seorang pasca sarjana yang pernah belajar Human Resource And Development di Australia, Taman Nasional Kakadu menutupi area seluas 19.804 kilometer persegi, terbentang hampir 200 kilometer dari utara ke selatan dan lebih dari 100 kilometer dari barat ke timur. Bahkan Taman Nasional ini sebesar Israel. Tapi ini tak seberapa dibanding petualangan di areal sawah yang membentang laksana karpet Turki, di dusun Sidomukti yang indah ini.
Seperti kebiasaanku, sepulang sekolah menaruh tas, ganti baju kemudian makan siang. Ibu sedang mengobrol dengan Emak. Aku tengah menikmati sayur lodeh tewel yang dibuat ibu. Ada irisan petai China, lembaran daun jeruk purut, rajangan tahu dengan santan yang kental dan pedas. Ini masih lebih nikmat dari Lasagna, masakan Italia yang penuh daging sapi.Keringat tanpa terasa sudah mengalir di kening dan punggungku yang telanjang. Sepintas aku mendengar obrolan mereka.
Emak dan keluargaku sudah seperti saudara. Karena sebelum mempunyai rumah sendiri Emak menempati rumah sebelah rumahku, itu diberikan secara cuma-cuma oleh Ibu karena Emak juga sering membantu Ibu memasak. Ada yang beda dalam pertemuan Emak dan Ibu kali ini. Aku melihat Emak menitikkan airmatanya saat berbicara sesuatu kepada Ibu.
Aku berpindah tempat, mendekat menuju pintu yang dekat mereka mengobrol. Sepintas aku sudah jelas, tetapi apa sebenarnya yang mereka ceritakan itu benar?Yuk Mi hamil?. Cepat aku selesaikan makan aku ikut bergabung dan duduk di sebelah ibu.
”Astaghfirullah” sayup-sayup kudengar Ibu mengucapkan kalimat ightiar itu.
Akhirnya tanpa menunggu selesainya obrolan kedua orang tua yang aku hormati itu, aku mengambil kaos Adidas warna kuning kusam, meluncur ke rumah Tito.
”Ayo ikut”
”Kemana Kris, penting sekali ya?”
”Sudah ayo, ke rumah Agus, Karno biar kita susul kemudian”
Kebetulan Karno sudah berada di rumah Agus, akupun memanggil mereka menuju kamar tamu di rumah Agus yang rindang. Rumah dinas camat. Bapak Agus seorang camat.
Pelan-pelan, dengan harapan tidak terdengar oleh oarang disekitar kami, aku berbisik kepada tiga temanku itu.
”Hai...Yuk Mi hamil!” kataku.
”Apa?” Karno mengernyitkan alisnya yang berbulu lebat tanda tidak percaya.
”Jangan ngaco kamu Kris!” ancam Agus. Sementara Tito di sebelahku hanya membelalakkan matanya, entah percaya atau tidak.
”Sekarang Emak sedang membicarakan Yuk Mi, Yuk Hamil” kataku.
Mereka mulai kebingungan antara benar dan tidak. Bila benar, kami sangat menyayangkan keluarga kecil sederhana itu harus tertimpa musibah seperti ini. Kami sebenarnya sepakat siang ini akan mengunjungi Lik Sutra di sekolah, tetapi akhirnya kami urungkan menunggu esok hari. Entah apa yang ada di benak teman-temanku. Apakah seperti aku yang selintas mulai menuduh Mas Herman telah berbuat mesum dengan Yuk Mi. Mungkinkah? Tiba-tiba Agus merapat di tempat dudukku,mulutnya didekatkannya di telingaku dan berbisik.
”Ini pasti Mas Herman?” suaranya serak. Sama Gus, seperti yang aku kira, batinku.Karno dan Tito menerawang juga.Entah apa yang mereka angan-angan.
”Apa Gus?” tanya Karno curiga.
“Mas Herman?” kata Agus mengisyaratkan pelakunya adalah Mas Herman.
“Hah?” Karno nyengir pahit, pahit sekali.
”Kalau benar, akau duluan yang akan menghajar pemuda sombong itu” bentak Karno.
”Sombong dan pelit, aku mau meninjunya” sahut Tito
”Kamu-kamu ini seberapa? Mas Herman bukan lawan kita” saranku.
”Aku mau bawa roti kalung” kata Karno.
”Sudah, ayo kita buktikan sebenarnya siapa laki-laki keparat itu?” ajakku kepada mereka yang sudah tak tertahan.
Aku kemudian menyusun strategi dengan teman-teman setiaku itu. Yang akhirnya saling memamahami tugasnya masing-masing. Besoknya, sore, sepulang sekolah kami menemui Lik Sutra.
”Lik, entar malam kita cari jangkrik lagi ya” aku menyapa Lik Sutra yang tengah menurukan perlengkapan jualannya. Tak nampak Emak dan Yuk Mi. Mungkin saja masih di belakang.
”Badanku hari ini pegal-pegal Kris, besok saja ya” jawab Lik Sutra.Meski kami kecewa tetapi teman-teman sangat memahami kondisi Lik sutra. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan berbagai pikiran. Kami takut menanyakan hal Yuk Mi, khawatir Lik Sutra marah.
***
Malam yang dijanjikan telah tiba. Pencarian jangkrik malam ini beda dengan malam-malam sebelumnya. Karena Karno tidak ikut dalam petualangan malam pekat ini. Tetapi seperti biasa Lik Sutra tetap seperti apa adanya. Bercerita dan kadang membual. Kami tertwa juga dengan bualan-bualan itu. Karena suatu saat cerita-cerita Lik Sutra itu juga aku ceritakan kepada teman yang lain hingga mereka juga tertawa.Setiba di kebun jagung kami mulai sibuk mencari jangkrik. Suara kepalan tangan yang meninju tanah saling bersautan agar jangkrik keluar dari sarangnya.
Jangkrik atau Familia Gryllidae adalah serangga yang berkerabat dengan belalang. Tubuhnya rata, dengan antena panjang.Binatang ini tergolong omnivora dengan suara yang nyaring yang hanya dimiliki jangkrik jantan. Suara mengerik ini sebenarnya untuk mengikat sang betina dan sebagai ancaman buat jantan lainnya yang mengganggu.
Bersamaan dengan petualangan kami di kebun jangung, Karno malam ini mempunyai tugas cukup berat. Karena dia harus menjaga rumah Lik Sutra yang memang sudah kami rencanakan. Lik Sutra tidak tahu strategi kami ini. Tugasnya adalah menjaga dan mengintip kamar Mas Herman yang telah kami curigai berbuat mesum dengan Yuk Mi, sesuai kesepakatan siang kemarin. Sejauh mana pemuda keparat itu tega berbuat nista!
Tigaperempat jam kami telah berada di perkebunan jagung ini, tiba-tiba Lik Sutra mengeluarkan roti sisir yang hanya tinggal tiga.
”Ini buat kamu, Lik Sutra pulang dulu entar Emak marah” kata Lik Sutra menenangkan kami.
Kami kesal lagi. Tetapi aku berharap mudah-mudahan strategi kami siang kemarin dapat membuka tabir yang tengah menimpa keluarga Lik Sutra. Lik Sutra tidak banyak bercerita tentang musibah ini, mungkin karena aib. Kami melihat obor Lik Sutra yang diselipkan di pelepah pisang itu dihembus angin dan ditelan kedinginan malam, lenteranya berangsur padam Sementara aku juga khawatir keberandaan Karno yang saat ini tengah menjadi petugas pengaman rumah Lik Sutra sekaligus mencari bukti kebenaran keterlibatan Mas Herman dalam kasus hamilnya Yuk Mi. Tidak mustahil lagi orang-orang akan menyumpahi pemuda itu. Karena selama bertahun-tahun keluarga Emak, baru kali ini peristiwa zinah ini terjadi. Keparat, Mas Herman! Yuk Sulasmi yang biasa aku kenal Yuk Mi, berpostur tubuh seksi, sepintas wajahnya mirip Yenny Rachman bintang film Indonesia di era 80an. Itukah yang menggoda lelaki lajang laknat itu?
***
Keesokan harinya di sekolah, Karno mengajak kami berkumpul di belakang tembok pembatas sekolah. Kami hanya berempat, Aku,Karno,Tito dan Agus, tak seorangpun mengetahui kami di belakang sekolah ini. Karno memulai ceritanya dengan matanya berkaca-kaca, hidung yang sudah berwarna merah jambu, menandakan dia telah menyimpan dendam kesumat serta kesedihan dan keharuan kepada keluarga sederhana ini. Apalagi melihat nasib Yuk Mi, atau Yuk Sulasmi. Samar-samar kulihat pipi kiri Karno berwarna merah jambu juga, seperti bekas tamparan.Aku tak tega melihatnya.
”Mas Herman!” kata Karno terbata-bata, sambil meninju pohon pisang di depannya berkali-kali .
”Hai, Karno. Kamu ini berkata apa?Tolong tenangkan dulu perasaanmu itu!” kataku.
”Karno, perasaanku sama dengan kamu saat ini, tapi tolong ceritakan yang sebenarnya semalam” pinta Agus.
”Iya, berceritalah dengan sebenarnya Kar” himbau Tito yang bengong di belakang kami.
”Ayo ikut kalian” ajak Karno. Kamipun merangsak ke arah Timur tembok sekolah yang berbatasan dengan kantor Telkom. Karno seperti ketakutan sekali. Karena biasanya Lik Sutra keluar melalui pintu pagar ini melihat-lihat tanaman pisang yang tumbuh di sepanjang sungai kecil ini.
”Aku ditampar Mas Herman” bisik Karno
”Benar, si keparat itu?” tanyaku
”Ayo..tunggu apalagi.Kita harus melapor ini ke Pak Lurah” sambung Agus agresif.
”Tunggu!.Aku melihat semalam, Lik Sutra memasuki kamar pojok tempat tidur Yuk Mi” kata Karno.
”Lalu?” tanya Agus agak gemetar, seperti aku, mungkin juga Tito.
”Aku telah melihat apa yang dilakukan Lik Sutra di kamar Yuk Mi. Tetapi sial Mas Herman terbangun,memergokiku dan mengejar. Tanpa melihat siapa, ditamparnya aku keras-keras” kata Karno.
”Lalu?” desakku.
”Aku meminta Mas Herman untuk mendengar penjelasanku, sambil kubuka penutup sarung di mukaku, kuajak Mas Herman mengintip apa yang tengah terjadi. Ada Lik Sutra di kamar Yuk Mi” cerita Karno.
”Lalu, bagaimana reaksi mas Herman, Kar?” tanya Agus
”Dia berpesan agar aku merahasiakan ini sampai Mas Herman memintanya nanti”
Aku mulai berkaca-kaca.Aku melihat wajah suram Emak saat menceritakan kejadian ini kepada ibu. Apa nantinya yang akan terjadi bila Emak tahu siapa sebenarnya lelaki yang menghamili Yuk Mi? Ternyata Lik Sutra, yang tak ubahnya seperti penjahat saat kami tahu cerita Karno. Diajaknya kami anak-anak desa yang hanya bisa bermalam-malam, kadang duduk dan ngobrol bersama selepas kami mengaji dan belajar di pos kamling depant rumah Lik Sutra hingga larut. Kami tidak tahu hampir setiap kami berkumpul di pos kamling, Lik Sutra selalu mengajak mencari jangkrik. Dibuatkannya kami obor sebagai lentera penerang di kegelapan malam di kebung jagung. Ternyata ada maksud terselubung yang dilakukan Lik Sutra dengan meninggalkan kami malam-malam di kebun jagung pak Fadholi.
Mas Herman pemuda lajang yang kami angap sombong, pelit ternyata salah kami menilainya. Seperti juga diungkapkan Karno bahwa Mas Herman tidur lelap malam itu. Mungkin karena setiap hari lembur di kantornya menjelang Pemilu.
Biarlah Karno dan Mas Herman yang menjelaskan kebusukan Lik Sutra.Untuk menghindari aib keluarga, Emak akhirnya memindahkan anak satu-satunya itu ke saudaranya di desa. Lik Sutra akhirnya mengakui perbuatannya itu dan menikahi pula perempuan itu. Lentera itu tidak bakalan menyala lagi. Taman lazwardi, hamparan karpet hijau dan musik symponi yang biasanya mengantar kami ke kebun jagung kini sepi. Tanpa ada injakan kaki-kaki anak desa yang dimotori oleh seorang penafsu besar dibalik lenteranya!
Sebuah Cerpen : NANGKRIS
Emak dan Yuk Mi dua orang ibu dan anak yang harus selalu sibuk setiap pagi menjelang anak-anak ke sekolah. Karena keluarga sederhana ini hidup dari hasil menjual jajanan anak sekolah disamping pekerjaan Lik Sutra sebagai petugas kebersihan sekolah. Lik Sutra adalah suami Emak yang usianya jauh lebih muda dari usia Emak.
Konon menurut cerita tetangga, lamaran Lik Sutra salah alamat. Dia meminang Yuk Mi tetapi justru yang jadi isterinya adalah Emak, janda beranak satu itu.Saat dilamar Yuk Mi sebenarnya sudah akan dinikahkan dengan pria pilihan Emak, tetapi rencana itu batal hingga akhirnya Yuk Mi harus menjadi perawan tua.Patah hati mungkin?
Rumah keluarga ini mempunyai beberapa petak kamar berjajar. Paling Timur ada gudang yang difungsikan sebagai dapur kemudian sebelahnya ada ruang untuk parkir sepeda. Sebelahnya lagi adalah sebuah kamar yang ditempati kos Mas Herman, seorang pegawai negeri yang baru bekerja beberapa bulan. Sementara Yuk Mi memang berada di petak paling pojok sebelah kamar Lik Sutra .
Aku tahu betul kesibukan keluarga ini termasuk seorang pemuda yang kost di rumah itu. Karena aku hampir setiap hari menjeput Lik Sutra ke rumahnya dan menemani selama perjalanan ke sekolah. Lik Sutra membawa barang-babarang dagangan dengan sebuah sepeda kebo tua yang sudah berkarat. Ada sarung goni di boncengan sepeda itu sebagai tempat alat-alat dapur yang diperlukan untuk berjualan di warung sekolah.
”Gimana Kris, nanti malam kita cari lagi?” Lik Sutra mengawalai pembicaraan kami di sepanajng jalan setapak menuju sekolah Dasar Widodo
”Boleh.Tapi jangan sering ditinggal Pak Lik” jawabku.
”Iya, Pak Lik harus menumbuk bumbu pecel khan, kalau tidak, diomeli eMak” saut Lik Sutra sambil memainkan rokok upetnya di bibirnya yang hitam. Wajah tua Lik, mirip Franconero, bintang film koboi. Jenggot dan cambangnya tajam.
Lik Sutra sering meninggalkan kami berempat, aku, Tito, Karno dan Agus setiap mencari jangkrik di kebun jagung milik haji Fadholi. Suasana gelap apabila malam dipenuhi suara nyaring jangkrik-jangkrik yang menjadi sasaran kami di kebun itu. Apabila kami mengeluh ketakutan karena ditingalnya, maka Lik Sutra selalu memberi semangat kepada kami dengan petuahnya.
”Laki-laki tidak boleh jadi penakut. Rasa takut itu hanya diciptakan oleh pikiran kalian” kata Lik Sutra suatu saat.
Pernah kami dimarahi Emak karena Lik Sutra mengajak kami mencari jangkrik.Mungkin saja Lik Sutra ada masalah dengan Emak. Kami kecewa saat itu tidak membawa seekor jangkrikpun. Namun rencana nanti malam kami harus mendapatkan jangkrik ”jalitheng” yang selalu menjadi incaran kami.
***
Malam ini kami sudah siap mencari jangkrik di kebun jagung haji Fadholi. Dua obor sudah kami siapkan. Aku, Tito dan Karno satu obor, Agus bersama Lik Sutra. Perjalanan kami menuju kebun jagung memerlukan waktu setengah jam. Jalan setapak, sebelah kanan sebuah sungai yang deras airnya. Sungai inilah yang mengairi seluruh sawah di dusun kami. Kebun tebu dan jangung berada di ujung timur setelah areal persawahan.
”Aku nggak nonton lagi film Mannix malam ini” keluh Tito, mengawali pembicaraan setelah setengah perjalanan. ”Aku malu, setiap nonton di rumah pak Lurah, sering ketiduran” lanjut Tito.
”Kalau kamu mau nonton kenapa kamu ikut?,nonton saja” celetuk Karno.
”Jangan terlalu sering nonton TV di rumah Pak Lurah, neneknya cerewet” saran Lik Sutra kepada Tito, mungkin itu juga kepada kami yang juga sering nonton TV di rumah Pak Lurah, satu-satunya di desa kami. TV hitam putih 14 inci merek Johnson yang tutupnya dapat dilipat model harmonika.
”Habis Dunia Dalam Berita sudah pulang, lagian sungkan kalau dibuatkan kopi” lanjut Lik Sutra.
Kami sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan kadang Lik Sutra cerita yang lucu-lucu sehingga membuat kami terpingkal-pingkal. Agus pernah terjungkal di pematang tanaman tebu yang lumayan tinggi. Gara-garanya kami harus menuruti komando Lik Sutra selama berjalan di pematang. Agus selalu berada diurutan ke dua dari depan setelah Lik Sutra. Sesuai komando Lik Sutra, obor baru boleh dinyalakan setelah sampai di kebun jagung.Mungkin ini sebuah efisiensi. Sehingga perjalanan di suasana gelap gulita itu hanya disinari cahaya bulan dan bayangannya di bawah sungai.
”Awas melompat” kata Lik Sutra, ketika melewati batasan pematang, kamipun dibelakangnya ikut melompat.
Suatu ketika, sial, Agus yang berada di urutan kedua itu terjungkal ketika ada pembatas pematang Lik Sutra justru tidak memberi komando,kami melihat nampak langkah Lik Sutra memang tenang. Agus melangkah juga tenang sekali.
”Jegurrrr...” Agus terjatuh ke sungai.
Mengetahui Agus terjatuh, Lik Sutra malah tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya memang disengaja. Tapi kami tetap larut dengan canda dan tawa, seperti larut malam yang menjemput pejalanan ini.Malam ini kami mendapat enam jangkrik jantan yang bagus-bagus dengan bunyi yang nyaring sekali. Agus telah menyiapkan tempat yang terbuat dari bambu yang dipetak-petak seperti rumah tingkat, untuk tempat jangkrik hasil kami masing-masing. Bersyukur Lik Sutra setia menemani hingga pencarian jangkri usai malam ini.
”Sudah, simpanlah jangkrik-jangkrik itu, besok setelah kamu belajar kita cari lagi yang bagus” kata Lik Sutra, sambil membasuh tangannya yang berbau minyak tanah dari obor yang terbuat dari bambu itu.
Lentera obor yang dihasilkan dari batang bambu dengan sumbu kain sobekan kaos itu sebagai lentera yang memberi penerangan bagi kami untuk mencari jangkrik. Pernah suatu malam membawa senter milik bapak yang berbaterei delapan, tapi hilang jatuh di sungai.
Begitulah dalam setiap kesempatan, kami memang anak-anak desa yang penuh kebersamaan apalagi dengan Lik Sutra yang sudah seperti pak lik kami sendiri. Penuh humor, sabar dan sering memberi kami makanan.
***
Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kami sangat kesal pada Lik Sutra. Rokoknya ketinggalan dan harus kembali ke rumah, perjalanan baru saja beberapa langkah. Sebenarnya setiap berangkat mencari jangkrik, kami penuh kekhawatian ditinggal di kegelapan malam oleh Lik Sutra. Katanya mau kembali dan bergabung tetapi ternyata malah pulang dan tidak kembali. Meski kadang Lik Sutra membawakan kami makanan kecil seperti krupuk,kacang saat meninggalkan kami berempat, tetapi itu tetap membuat kesal.Lebih-lebih Agus merasa sangat kesal.
”Kalau hanya untuk ditinggal, kenapa Pak Lik mengajak mencari jangkrik!” keluh Agus.
Aku memahami perasaan Agus. Karena Lik Sutra sebagai partner mencari jangkrik sering meninggalkannya. Ini juga merupakan kekesalan kami berempat. Terkadang timbul niatan kami untuk menolak ajakan Pak Lik Sutra. Tapi kami sudah terlanjur senang dengan petualangan ini. Melihat eksotisnya pucuk-pucuk daun padi yang ditebari cahaya bulan. Ujungnya menari-nari kian kemari seolah memberi salam menyambut kehadiran kami. Suara katak, suara serangga malam, bagi kami itu adalah suara-suara indah.
Lokasi malam di areal persawahan ini pasti masih lebih indah dari Taman Nasional Kakadu, sebelah timur Darwin,Australia. Menurut cerita Pak Broto tetanggaku yang narsis, seorang pasca sarjana yang pernah belajar Human Resource And Development di Australia, Taman Nasional Kakadu menutupi area seluas 19.804 kilometer persegi, terbentang hampir 200 kilometer dari utara ke selatan dan lebih dari 100 kilometer dari barat ke timur. Bahkan Taman Nasional ini sebesar Israel. Tapi ini tak seberapa dibanding petualangan di areal sawah yang membentang laksana karpet Turki, di dusun Sidomukti yang indah ini.
Seperti kebiasaanku, sepulang sekolah menaruh tas, ganti baju kemudian makan siang. Ibu sedang mengobrol dengan Emak. Aku tengah menikmati sayur lodeh tewel yang dibuat ibu. Ada irisan petai China, lembaran daun jeruk purut, rajangan tahu dengan santan yang kental dan pedas. Ini masih lebih nikmat dari Lasagna, masakan Italia yang penuh daging sapi.Keringat tanpa terasa sudah mengalir di kening dan punggungku yang telanjang. Sepintas aku mendengar obrolan mereka.
Emak dan keluargaku sudah seperti saudara. Karena sebelum mempunyai rumah sendiri Emak menempati rumah sebelah rumahku, itu diberikan secara cuma-cuma oleh Ibu karena Emak juga sering membantu Ibu memasak. Ada yang beda dalam pertemuan Emak dan Ibu kali ini. Aku melihat Emak menitikkan airmatanya saat berbicara sesuatu kepada Ibu.
Aku berpindah tempat, mendekat menuju pintu yang dekat mereka mengobrol. Sepintas aku sudah jelas, tetapi apa sebenarnya yang mereka ceritakan itu benar?Yuk Mi hamil?. Cepat aku selesaikan makan aku ikut bergabung dan duduk di sebelah ibu.
”Astaghfirullah” sayup-sayup kudengar Ibu mengucapkan kalimat ightiar itu.
Akhirnya tanpa menunggu selesainya obrolan kedua orang tua yang aku hormati itu, aku mengambil kaos Adidas warna kuning kusam, meluncur ke rumah Tito.
”Ayo ikut”
”Kemana Kris, penting sekali ya?”
”Sudah ayo, ke rumah Agus, Karno biar kita susul kemudian”
Kebetulan Karno sudah berada di rumah Agus, akupun memanggil mereka menuju kamar tamu di rumah Agus yang rindang. Rumah dinas camat. Bapak Agus seorang camat.
Pelan-pelan, dengan harapan tidak terdengar oleh oarang disekitar kami, aku berbisik kepada tiga temanku itu.
”Hai...Yuk Mi hamil!” kataku.
”Apa?” Karno mengernyitkan alisnya yang berbulu lebat tanda tidak percaya.
”Jangan ngaco kamu Kris!” ancam Agus. Sementara Tito di sebelahku hanya membelalakkan matanya, entah percaya atau tidak.
”Sekarang Emak sedang membicarakan Yuk Mi, Yuk Hamil” kataku.
Mereka mulai kebingungan antara benar dan tidak. Bila benar, kami sangat menyayangkan keluarga kecil sederhana itu harus tertimpa musibah seperti ini. Kami sebenarnya sepakat siang ini akan mengunjungi Lik Sutra di sekolah, tetapi akhirnya kami urungkan menunggu esok hari. Entah apa yang ada di benak teman-temanku. Apakah seperti aku yang selintas mulai menuduh Mas Herman telah berbuat mesum dengan Yuk Mi. Mungkinkah? Tiba-tiba Agus merapat di tempat dudukku,mulutnya didekatkannya di telingaku dan berbisik.
”Ini pasti Mas Herman?” suaranya serak. Sama Gus, seperti yang aku kira, batinku.Karno dan Tito menerawang juga.Entah apa yang mereka angan-angan.
”Apa Gus?” tanya Karno curiga.
“Mas Herman?” kata Agus mengisyaratkan pelakunya adalah Mas Herman.
“Hah?” Karno nyengir pahit, pahit sekali.
”Kalau benar, akau duluan yang akan menghajar pemuda sombong itu” bentak Karno.
”Sombong dan pelit, aku mau meninjunya” sahut Tito
”Kamu-kamu ini seberapa? Mas Herman bukan lawan kita” saranku.
”Aku mau bawa roti kalung” kata Karno.
”Sudah, ayo kita buktikan sebenarnya siapa laki-laki keparat itu?” ajakku kepada mereka yang sudah tak tertahan.
Aku kemudian menyusun strategi dengan teman-teman setiaku itu. Yang akhirnya saling memamahami tugasnya masing-masing. Besoknya, sore, sepulang sekolah kami menemui Lik Sutra.
”Lik, entar malam kita cari jangkrik lagi ya” aku menyapa Lik Sutra yang tengah menurukan perlengkapan jualannya. Tak nampak Emak dan Yuk Mi. Mungkin saja masih di belakang.
”Badanku hari ini pegal-pegal Kris, besok saja ya” jawab Lik Sutra.Meski kami kecewa tetapi teman-teman sangat memahami kondisi Lik sutra. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan berbagai pikiran. Kami takut menanyakan hal Yuk Mi, khawatir Lik Sutra marah.
***
Malam yang dijanjikan telah tiba. Pencarian jangkrik malam ini beda dengan malam-malam sebelumnya. Karena Karno tidak ikut dalam petualangan malam pekat ini. Tetapi seperti biasa Lik Sutra tetap seperti apa adanya. Bercerita dan kadang membual. Kami tertwa juga dengan bualan-bualan itu. Karena suatu saat cerita-cerita Lik Sutra itu juga aku ceritakan kepada teman yang lain hingga mereka juga tertawa.Setiba di kebun jagung kami mulai sibuk mencari jangkrik. Suara kepalan tangan yang meninju tanah saling bersautan agar jangkrik keluar dari sarangnya.
Jangkrik atau Familia Gryllidae adalah serangga yang berkerabat dengan belalang. Tubuhnya rata, dengan antena panjang.Binatang ini tergolong omnivora dengan suara yang nyaring yang hanya dimiliki jangkrik jantan. Suara mengerik ini sebenarnya untuk mengikat sang betina dan sebagai ancaman buat jantan lainnya yang mengganggu.
Bersamaan dengan petualangan kami di kebun jangung, Karno malam ini mempunyai tugas cukup berat. Karena dia harus menjaga rumah Lik Sutra yang memang sudah kami rencanakan. Lik Sutra tidak tahu strategi kami ini. Tugasnya adalah menjaga dan mengintip kamar Mas Herman yang telah kami curigai berbuat mesum dengan Yuk Mi, sesuai kesepakatan siang kemarin. Sejauh mana pemuda keparat itu tega berbuat nista!
Tigaperempat jam kami telah berada di perkebunan jagung ini, tiba-tiba Lik Sutra mengeluarkan roti sisir yang hanya tinggal tiga.
”Ini buat kamu, Lik Sutra pulang dulu entar Emak marah” kata Lik Sutra menenangkan kami.
Kami kesal lagi. Tetapi aku berharap mudah-mudahan strategi kami siang kemarin dapat membuka tabir yang tengah menimpa keluarga Lik Sutra. Lik Sutra tidak banyak bercerita tentang musibah ini, mungkin karena aib. Kami melihat obor Lik Sutra yang diselipkan di pelepah pisang itu dihembus angin dan ditelan kedinginan malam, lenteranya berangsur padam Sementara aku juga khawatir keberandaan Karno yang saat ini tengah menjadi petugas pengaman rumah Lik Sutra sekaligus mencari bukti kebenaran keterlibatan Mas Herman dalam kasus hamilnya Yuk Mi. Tidak mustahil lagi orang-orang akan menyumpahi pemuda itu. Karena selama bertahun-tahun keluarga Emak, baru kali ini peristiwa zinah ini terjadi. Keparat, Mas Herman! Yuk Sulasmi yang biasa aku kenal Yuk Mi, berpostur tubuh seksi, sepintas wajahnya mirip Yenny Rachman bintang film Indonesia di era 80an. Itukah yang menggoda lelaki lajang laknat itu?
***
Keesokan harinya di sekolah, Karno mengajak kami berkumpul di belakang tembok pembatas sekolah. Kami hanya berempat, Aku,Karno,Tito dan Agus, tak seorangpun mengetahui kami di belakang sekolah ini. Karno memulai ceritanya dengan matanya berkaca-kaca, hidung yang sudah berwarna merah jambu, menandakan dia telah menyimpan dendam kesumat serta kesedihan dan keharuan kepada keluarga sederhana ini. Apalagi melihat nasib Yuk Mi, atau Yuk Sulasmi. Samar-samar kulihat pipi kiri Karno berwarna merah jambu juga, seperti bekas tamparan.Aku tak tega melihatnya.
”Mas Herman!” kata Karno terbata-bata, sambil meninju pohon pisang di depannya berkali-kali .
”Hai, Karno. Kamu ini berkata apa?Tolong tenangkan dulu perasaanmu itu!” kataku.
”Karno, perasaanku sama dengan kamu saat ini, tapi tolong ceritakan yang sebenarnya semalam” pinta Agus.
”Iya, berceritalah dengan sebenarnya Kar” himbau Tito yang bengong di belakang kami.
”Ayo ikut kalian” ajak Karno. Kamipun merangsak ke arah Timur tembok sekolah yang berbatasan dengan kantor Telkom. Karno seperti ketakutan sekali. Karena biasanya Lik Sutra keluar melalui pintu pagar ini melihat-lihat tanaman pisang yang tumbuh di sepanjang sungai kecil ini.
”Aku ditampar Mas Herman” bisik Karno
”Benar, si keparat itu?” tanyaku
”Ayo..tunggu apalagi.Kita harus melapor ini ke Pak Lurah” sambung Agus agresif.
”Tunggu!.Aku melihat semalam, Lik Sutra memasuki kamar pojok tempat tidur Yuk Mi” kata Karno.
”Lalu?” tanya Agus agak gemetar, seperti aku, mungkin juga Tito.
”Aku telah melihat apa yang dilakukan Lik Sutra di kamar Yuk Mi. Tetapi sial Mas Herman terbangun,memergokiku dan mengejar. Tanpa melihat siapa, ditamparnya aku keras-keras” kata Karno.
”Lalu?” desakku.
”Aku meminta Mas Herman untuk mendengar penjelasanku, sambil kubuka penutup sarung di mukaku, kuajak Mas Herman mengintip apa yang tengah terjadi. Ada Lik Sutra di kamar Yuk Mi” cerita Karno.
”Lalu, bagaimana reaksi mas Herman, Kar?” tanya Agus
”Dia berpesan agar aku merahasiakan ini sampai Mas Herman memintanya nanti”
Aku mulai berkaca-kaca.Aku melihat wajah suram Emak saat menceritakan kejadian ini kepada ibu. Apa nantinya yang akan terjadi bila Emak tahu siapa sebenarnya lelaki yang menghamili Yuk Mi? Ternyata Lik Sutra, yang tak ubahnya seperti penjahat saat kami tahu cerita Karno. Diajaknya kami anak-anak desa yang hanya bisa bermalam-malam, kadang duduk dan ngobrol bersama selepas kami mengaji dan belajar di pos kamling depant rumah Lik Sutra hingga larut. Kami tidak tahu hampir setiap kami berkumpul di pos kamling, Lik Sutra selalu mengajak mencari jangkrik. Dibuatkannya kami obor sebagai lentera penerang di kegelapan malam di kebung jagung. Ternyata ada maksud terselubung yang dilakukan Lik Sutra dengan meninggalkan kami malam-malam di kebun jagung pak Fadholi.
Mas Herman pemuda lajang yang kami angap sombong, pelit ternyata salah kami menilainya. Seperti juga diungkapkan Karno bahwa Mas Herman tidur lelap malam itu. Mungkin karena setiap hari lembur di kantornya menjelang Pemilu.
Biarlah Karno dan Mas Herman yang menjelaskan kebusukan Lik Sutra.Untuk menghindari aib keluarga, Emak akhirnya memindahkan anak satu-satunya itu ke saudaranya di desa. Lik Sutra akhirnya mengakui perbuatannya itu dan menikahi pula perempuan itu. Lentera itu tidak bakalan menyala lagi. Taman lazwardi, hamparan karpet hijau dan musik symponi yang biasanya mengantar kami ke kebun jagung kini sepi. Tanpa ada injakan kaki-kaki anak desa yang dimotori oleh seorang penafsu besar dibalik lenteranya!
Sidomukti, sebuah desa di Kraksaan, 25 km arah Probolinggo.
Bila ada persamaan nama karaker tokoh dalam cerita ini itu hanya kebetulan saja.
Cerita ini murni hasil dari sebuah "imajinasi" Nangkris प्रबुलिंग्गा Wetan.
Menulis Dan Menulis
Setelah saya terkesan dengan cerpen-cerpen Tuti Nonka dulu, kini saya mencoba untuk membuat tulisan entah apa nanti namanya. Pokoknya cerita-cerita yang pernah saya tulis beberpa dekade ini akan saya rangkum dalam blog ini.
Mudah-mudahan saya bisa eksis untuk merawat kenangan yang tercecer khususnya di tempat kepribadian saya dibentuk yaitu Di Sudut Sidomukti.
Mudah-mudahan saya bisa eksis untuk merawat kenangan yang tercecer khususnya di tempat kepribadian saya dibentuk yaitu Di Sudut Sidomukti.
Langganan:
Komentar (Atom)
