Rabu, 31 Oktober 2012

Dahlan Jangan Alihkan Isu Upeti

Berikut wawancara wakil ketua komisi VII DPR (PDIP) Efendi Simbolon


Selengkapnya klik di sini

Inilah Oknum-oknum DPR Pemeras BUMN

Kasus potensi kerugian negara karena PLTGU sebesar rp 37 T rupanya akan menyeret nama oknum anggota DPR pemerasBUMN. Mudah2an Dahlan Iskan benar dengan pernytaannya ini atau seperti pers katakan jangan-janagan Dahlan Ikan menggali kubur untuk dirinya? Simak 
Klik di sini

Selasa, 30 Oktober 2012

Mencari Makan , Tanpa Disadari Juga Mencari Mangsa

Begitu bel sekolah berbunyi sekitar jam 9 pagi tanda istirahat, para siswa sebuah sekolah langsung menyerbu para penjual jajanan sekolah di luar pagar. Berbagai jajanan tersedia seperti layaknya pasar malam. Ada pentol, martabak, cireng, berbagai nuget dengan warna mentereng. Sementar di sebelah sana juga ada penjual yang khusus menyediakan minuman dengan berbagai warna warni yang tak kalah menariknya dari panggung Opera Van Java.

Seorang ibu dengan pakaian ala kadarnya, lusush dan rambut kusut, memasukkan es batu ke dalam sebuah bak es tebu yang encer. Digiling dengan gilingan pemutar bertenaga diesel kecil , dimasukkannya batangan tebu yang sudah di kerik bersih, tetapi belum terseleksi adakah diantara batangan itu tebu yang busuk dan ada sarang ulatnya? maka sedetik kemudian keluarlah cairan hijau "leteheq" agak ketua tuaan. Terus itu dialukan untuk mengisi bak mika (mudah2an sdh dicuci alias distiriil) seperti layaknya aku ketika mengisi bak mandi mushola tempat mengaji.

Penjual cireng juga tak kalah serunya dengan minyak dipanci yang warnanya sudahmulai menghitam tanda jenuh, namun tak sedikitpun ada upaya menggantikan dengan minyak yang baru. Anak-anak sekolah mengelilinginya dengan seksama, begitu matang dimasukkan dalam plastik, dilumuri saus "ketela" merah menyala, dibuburi entah apa yang rasanya sangat disuka anak-anak. Dengan lahapnya mereka anak-anak tak berdosa itu menyantap makanan-makanan cept saji itu. Entah , diantara mereka apakah perutnya sudah "disarapi" dengan nasi masakan ibu di rumah? yang jelas mereka sangat menikmati!

Para produsen2 itu tak mau tahu dengan kandungan vitamin, ataupun zat berbahaya terhadap produknya. Mereka tak akan ambil pusing dengan semuanya itu, yang ada dibenak mereka adalah yang terpenting pulang dengan dagangan bersih dan uang sudah siap ditangan untuk keluarganya. Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan.

Mereka tak tahu apa itu Rhodamin B.Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Zat itu sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati.

Sementara zat lainnya seperti pewarna kuning Metanil. Apa pula ini? Zat pewarna kuning metanil adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan cat berbentuk serbuk atau padat yang berwarna kuning kecoklatan.Dalam takaran tertentu bisa membahayakan kantung kemih!

Belum lagi bahan pengawet yang sudah populer sedemikian juga pemakaiannya oleh para pemburu "mangsa" anak sekolah itu dipopulerkanyaitu Formalin! Aduh! itu terjadi sepanjang masa sampai saat ini kalau kita perhatikan.

Siapa yang salah? mereka tak pernah mendapatkan sosialisasi? penyuluhan tentang bahaya produk yang dijualnya. Atau juga ada yang telah mengetahuinya tentang bahaya produknya? karena alasan instan, biaya murah dan bahannya sangat mudah didapat! Ini tanggungjawab siapa pula? karena dalam dekade tertentu banyak kasus terjadi sebagai dampak menkonsumsi bahan-bahan kimia ini.

Solusi awal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua adalah, dengan memberikan penyuluhan terhadap anak-anak kita tentang bahaya bahan-bahan makanan yang terkandung dalam jajanan sekolah. Sebagai bentuk tindakan preventiv berilah mereka sangu makanan dari rumah yang jelas dari bahan apa ibu memasaknya. Hindarilah memberikan uang jajan yang berlebihan.

Mudah2an hal ini akan sedikit memeberikan gambaran terhadap para orang tua terhadap generasi muda yang akan hidup bertahun tahun lagi. Mereka sebagai wakil orang tua di bumi nantinya. Akankah kita biarkan mereka terus menerus menkonsumsi zat-zat yang dapat meracuni mereka. Maka bergegaslah dan cepatlah bertindak, baik orang tua, pemerintah, sekolah dan para konsumen2 itu. Semoga mereka tidak semata-mata mencari "mangsa" hanya untuk kuntungan semata dan Allah akan memberikan petunjuk kepada kita semua.Amin***Nangkris.

Dengan 2 Kelopak Mata, Semua Hanya Satu

Salah satu  organ penting bagi manusia adalah mata. Mata sebagai pendeteksi  cahaya apakah lingkungan sekitar terang atau gelap. Lebih komplek mata mempunyai peran memberikan pengertian visual. Setiap manusia normal memiliki sepasang mata, mata kanan dan mata kiri. Melalui mata manusia dapat melihat segal sesuatu isi dunia ini dengan segala visualnya. Berbagai warna dengan bantuan cahaya.

Secara fisik organ mata bagian luar terdiri dari bulu mata, alis mata dan kelopak mata, sedangkan organ dalam jauh lebih komplek , karena organ dalam ini yang memiliki peran penting dalam merefleksikan obyek yang ditangkap, kornea, pupil, lensa mata, retina dan syaraf mata.

Alhamdulillah dengan kebesaranNya sepasang mata yang masing-masing menangkap sebuah obyek, akan diterjemahkan dalam satu objek, padahal kalau kita pejamkan salah satu mata objekpun satu, begitu dua mata terbuka maka objekpun juga satu. Memang ada teknik memunculkan dua obejk yang kita lihat dengan menekan kelopak mata ke atas ataupun ke bawah. Hal ini terjadi ketidak samaan sudut padang antara mata yang satu dengan mata yang lain.

Dalam arti lain apa yang kita pandang dengan sepasang mata atau dua buah kelopak mata maka akan diterjemahkan satu objek saja. Namun terkadang setelah melalui proses, tak jarang kita melihat objek yang telah diterjemahkan mata tersebut kemudian diolah dalam berbagai persepsi. Karena mata hanya bisa memberikan visual tentang objek yang kita tangkap.

Hal lain begitu kita melihat sebuak sosok kepribadian, dalam visual, memang nampak sebuah kepribadian itu hanya satu objek saja, namun kemudian kita akan banyak menterjemahkan bermacam-macam persepsi kepribadian tersebut. Apakah ini sebuah manipulasi? Kenapa kita tidak bisa memandang satu bojek kepribadian itu apa adanya, dalam satu sisi saja yaitu yang beraura positip tentang sosok kepribadian tadi? seperti yang diterjemahkan oleh mata?

Apakah memang karena masing-masing kelopak mata manusia terdiri dari mata yang berorientasi pada aura positip dan yang lainnya negatif terhadap sosok kepribadian? hingga kemudian melalui proses menimbulkan berbagai persepsi dan penialaian terhadap sebuah kepribadian?

Ya dengan dua buah kelopak mata manusia bisa membuat satu visi dalam hidupnya, meski seiring perkembangan kejiwaan visi itu selalu berubah-rubah? Kalau dengan dua mata kita melihat satu kesatuan, mengapa Allah menciptakan manusia dengan dua kelopak mata pada setiap manusia? Allahua'lam. Mudah-mudahan Anda paham apa yang saya maksudkan ini. Karena yang ada dalam pemikiran saya lebih dari apa yang saya tuangkan dalam tulisan ini.(Nanagkris-puasa 14)

Perihnya Merasakan PHK

Pagi ini saya pertama masuk kerja sebagai penyiar sebuah radio swasta nasional. Tidak terbayang saya akan menang dalam kompetisi untuk menjadi penyiar menyisihkan 3 pesaing. Meski saat menghitung-hitung probabilitas saya yakin akan mengalahkan mereka. Saya selalu menyapa para pendengan, terutama yang sudah di list oleh programer untuk orang-orang tertentu mesti selalu disapa melalui udara. Mereka layak untuk selalu disapa dan dihadiahi lagu ukhusus, karena mereka merupakan pendengar yang selalu memborong kupon pilihan pendengar yang otomatis berkontribusi dalam pendapatan perusahaan broadcasting ini.

Saya membawakan acara Pesona Pagi, menyapa pendengar yang siap berangkat kerja dan siswa yang juga akan bernagkat sekolah. Operator telah menata musik yang akan diputar selama kurun waktu 1 jam kedepan dipotong iklan. Lagu demi lagu saya putar hingga tak terasa siaran relay harus disiapakan dari RRI Jakarta guna mengikuti warta berita jam 07.00 WIB. Tetapi sayang , sebagai penyiar baru saya sempat dimarahi langsung pak Direktur

" Kamu koq masih panggung sandiwara , ini saatnya warta berita" kata boss saya itu.

Maklum lagu terkahir yang saya putar adalah Panggung Sandiwaranya God Bless yang dibawakan Achamd Albar...ya pengalaman pertama dimarahi boss...

Tak ada perjanjian akad khusus  pengusaha dan saya selaku tenaga kerja saat itu. Ya otomatis tidak ada peraturan tentang hak saya dan kewajiban saya, semua mengalir begitu saja. Saya menyiarkan acara Pesona Pagi, dan membantu administrasi di kantor.  Gajinyapun juga tidak standar, tidak amsalah menurut saya, karena saya sudah bisa menyalurkan hobbi koleksi kaset , karena saat itu belum ada CD kale...yang ada adalah long play (LP) alias piringan hitam...,salam-salaman dan kontak-kontakan saat di SMA dulu.Apalagi saya sempat frustasi karena gagal kuliah di fakultas pertanian universitas swasta di Malang. Saya gagal masuk universitas negeri dengan jurusan yang sama , sehingga perkuliahan saya terseok-seok. Sempat menganggur 10 bulan sebelum nekad jadi penyiar radio ini.

Suatu waktu ada kakak kelas SMAku yang telah bekerja di sebuah perusahaan umum bidang telekomunikasi menghubungi saya di kantor. Ada lowongan. Terpanggil untuk mendapatkan status yang pasti seperti teman saya yang sudah bekerja, saya coba mendaftar. Namun tentunya saya harus minta ijin ke Direktur Perusahaan Radio Swasta Niaga ini, tidak tanggung-tanggung, saya minta ijin 3 hari.Karena testnya nanti akan dialkaukan secara bertahap kata teman saya. Saya menulis surat ijin lagi 3 hari.Namun apa hendak dikata , ijin saya molor hingga 7 hari kerja. Rupanya ketidak hadiran saya membuat radio ini menjadi kolong koming alias nyaris berantakan, karena banyak penggemar saya selalu menanyakan kehadiran saya (ceileh..)

Naas...bulan ke 3 masa kerja saya , berakhir pada secarik kertas yang berperihal : Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Saat itu saya belum tahu tentang aturan ketenagakerjaan , seperti akhirnya tdimuat secara tersurat dalam UU no 13 tahun 2003, pasat 1 ayat 15 yang disebutkan :hubungan kerja adalah hubungan hukum yang timbul antara pekerjadan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai ciri-ciri adanya upah, adanya perintah dan adanya pekerjaan. Terlalu berat bagi saya untuk mengerti hal semacam itu. Apalah itu aturan , yang penting saat dalam kegundahan itu saya bisa menghibur diri dengan bercuap cuap di depan mic.Saya dapat pesangon yang tak tahu dasar besarannya berapa, tapi lumayan untuk biaya transport selama mengikuti test itu.

Ada hal menarik dan hikmah mendalam dalam perjalanan ini. Saya semakin mendekatkan diri pada Allah. Agar kegamangan saya setelah di PHK dapat terobati dengan diterimanya saya di perusahaan umum ini (sekarang menjadi sebuah BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi). 5 orang mengikuti test, dalam tahapan seleksi secara berangsurangsur rekan-rekan saya tereleminasi, hingga tinga kami berdua untuk mengikuti test akhir "kesehatan".Rupanya Allah mendengan doa saya, saya satu-satunya yang lolos dalam tes terakhir. 

Namun saya sangat merasakan saat menunggu pengumuman, uang sudah tidak punya karena dari radio saya sudah tidak mendapat gaji. Mana bertepatan dengan hari raya, punya pacar cantik tetapi dompet "gelondangan"...bayangkan saja. Biasanya kami berdua sepulang dia sekolah  selalu mentraktir baso atau rujak manis. Karena proses penyaringan tes ini begitu panjang , sehingga semua kebimbangan antara takut kehilangan pacar, kehilangan kepercayaan teman2 saya dan yang paling saya galaukan justu kehilangan "masa depan"!

Ya , setidaknya saya sudah merasakan betapa PHK merupakan kata-kata yang tidak berpihak pada perikemanusiaan menurut saya saat itu. Saya tidak dapat mengumpat siapa-siapa, karena saat itu saya belum megerti perangkat perundang-undangan yang ada. Untuk saya tidak larut dengan keemosialan hingga sampai berniat anarkis kepada perusahaan radio, meski saat itu kadang timbul sikap anak muda saya untuk berbuat itu. Yang selalu saya ingat adalah pesan Ibu"Sekali kamu berbuat nekad (anarkis) , itu menghadang masa depanmu" begitu Ibu saya.

Alhadulillah saya sudah mendapat "pegangan hidup" sebagai karyawan. Namun saya terus mencoba belajar dan belajar untuk mengetahu minimal apa sebenarnya hubungan karyawan dan perusahaannya. Ada aturan yang jelas tentang hak dan kewajiban masing-masing yang kadang relatif berbeda kepentingan. PHK akan menjadi kalimat kasar bagi tenaga kerja dan dapat menyengsarakan.Makanya saya sependapat dengan pemerintah bila berharap jangan sampai terjadi PHK***Nangkris.

Senja Yang Terus Merona

Dengan penuh percaya diri meski hatinya pahit, Sutinah tetap bertahan tersenyum, meski tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dalam perasaannya,  tat kala suamimya, si Jupri mengatainya dengan sedikit manja
"Hemm ...aku bersyukur bertemu dengamu Tin, meski dikata orang bodymu glinuk-glinuk" sambil merebahkan tubuhnya dengan tangan merentang hingga bulu keteknya jelas.

"Alah mas gini-gini kamu ya tergila-gila sama aku" balas Sutinah nyengir.

"Ya aku tergila-gila sama (sensor-penulis) mu..loh tenan qi" sambil sedikit tersenyum mesra.

Entah apa selanjutnya yang dapat terbaca dalam diri Sutinah apalagi perasaannya. Tetapi jelas semakin dia dihina oleh orang yang mencintainya itu, malah Sutinah berbunga-bunga. Setidaknya dia berfikir, bahwa seratus persen dia tahu bahwa suaminya adalah orang yang sangat mencintainya dan setia.

Sutinah hanya berbekal keyakinan kepada Allah dimana setiap melangkah seolah hatinya memohon agar Jupri akan selalu menyintainya. Padahal dirinya sangat memaklumi kalaupun ada gadis yang lebih cantik dari dirinya, Jupri bisa saja berpaling. Namun dari sikap kedekatan batinnya dengan sang suami, Sutinah masih merasa bahwa memang dialah pilihan Jupri.

Relasi yang nampak sangat bertentangan , meski Jupri tak setampan Roy Martyn namun sedikit mirip dengan Franky Sahilatua, semntara Sutinah berperawakan gemuk dan pendek , namun mempunya bibir tipis yang kenes, mata yang tajam dan selalu riang. Daya tarik tersendiri rupayna bagi Jupri. Hubungan ini nampak begitu matang dan merasa selalu tersanjung satu sama lain tat kala muncul sentilan-sentilan masalah performance masing-masing.

Ikatan bathin yang terlalu rekat satu sama lain, apapun gejolak yang terjadi , terjadilah! ini bukan halangan untuk mereka apalagi harus berkonfrontasi hanya karena masalah performance lahiriyah. Sutinah merasa cinta adalah lebih pada hubungan batin darpada bentuk luar! Sutinah meyakini itu. Apalagi selama ini segala daya upaya telah dikerahkannya hanya untuk suami dan 2 anaknya itu.

Sutinah bukanlah perempuan gedongan yang maunya selalu dipuja. Dan akan memaki-maki apabila dikritik , maunya selalu didambakan dan selalu dicantikkan. Tidak ada yang tahu dibalik semua itu terkadang hanyalah bayangan semu dan pujian-pujian itu ibarat fatamorgana yang terjadi sebaliknya! Bagus, Sutinah punya prinsip bahwa cinta bukanlah hanya hubungan lahiriyah, penampakan dan lainnya yang kasat mata, tetapi lebih daripada hubungan hati,batin dan rasa! Dan bila ini terus menerus terjadi akan berdampak fatal !

Kenapa begitu, ya banyak kontradiksi terjadi dalam perjodohan manusia, yang pendek mendapat jodoh yang tinggi, jelek dengan cantik ataupun tampan. Sepertinya sangat mengesampingkan hubunga lahiriyah. Mereka lebih menonjolkan hubungan bathin dan cinta yang sesunggunya. Sehingga meski secara lahir Sutinah harus sering berpisah dengan Jupri dalam jarak yang jauh dan dalam waktu yang lama, bagi Sutinah hubungan batinnya serasa tidak ada jarak, dan waktu seberapa lamapun baginya adalah sekejap saja.

Kunci kesetiaan itulah yang selalu dilakukan untuk suaminya, hinga Sutinah yakin bahwa sikap-sikapnya itulah adalah bak magent yang bisa mengangkat berton-ton besi tua! Dan itulah mungkin yang membuat mereka bertahan dalam tatanan rumah tangga yang utuh. ***Nangkris, (Romadhan suatu ketika)

Tipuan Kepala Sekolah Yang Membawa Sukses

Dalam sebuah kelas seorang Kepala Sekolah menyampaikan kepada para siswa siswi tahun pelajaran baru, bahwa kelas ini adalah merupakan siswa siswa pilihan dari berbagai sekolah SMP dari berbagai daerah. Sehingga kelas ini nantinya diharapkan dapat berhasil dengan nilai rata-rata lebih tinggi dari kelas lainnya. Mereka nanti akan dibimbing oleh 3 guru yang juga merupakan pilihan, kata Kasek kepada siswa "pilihan" tsb.

Maka setelah kenaikan kelas , kelas ini mendapatkan nilai yang luar biasa. Mereka saling berpacu untuk mendapatkan nilai tertinggi, karenya mereka dapat berhasil mendapatkan nilai terbaik rata-rata dari kelas lainnya.

Pada suatu ketika 3 guru ini menanyakan kpd  Kaseknya mengapa kelas ini menjadi kelas paling top dari kelas lainnya? Maka Kasek itu membuka rahasia yang selama satu ajaran itu dipendamnya saat kepala sekolah memanggil 3 guru dalam kelas ini.."Sebenarnya kalian  adalah siswa-siswa yang saya pilih  secara acak seperti kelas laiinya, namun saya sampaikan kepada Anda bahwa kelas ini adalah siswa unggul dari berbagai sekolah" kata Kasek yang berobservasi itu.
"Status" pujian ternyata membawa dampak dahsyat kepada setiap individu. Sekalipun hasil yang dicapai setiap individu nanti belum jelasMaka dalam kaitan cerita ini juga disampaikan bahwa dalam sebuah organisasi bila seorang pimpinan selalu menekankan target (meskipun ini hal yang lumrah) namun bila dilakukan terus menerus malah akan merusak komitment yang telah dibangun bersama.(Nangkris)

Bersama Angin, Suatu Ketika

Angin, sejak aku lahir dan tumbuh di muka bumi ini, aku tak terbayangkan seberapa jumlah partikel-partikelmu yang aku hirup. Ini membuat seluruh sistem dalam jaringan tubuhku menjadi tumbuh dan berkembang. Aku tak pernah tahu rahasia dibalik zatmu. Kamu membawa partikel oksigen, air dan kadang juga partikel zat padat yang lembut, semua aku hirup dengan seksama untuk memicu jantung dan paru-paruku.


Aku membawa seonggok cerita buatmu, bila kau tak keberatan hembuskan berita yang sepatutnya , kepada teman-temanmu dalam bahasamu yang lembut. dan segar. Tapi ingat, jangan lupakan tugasmu untuk menyeimbangkan kehidupan di bumi ini sesuai job deksmu. Karena peran simbiyanmu, gas,udara sangat menentukan terhadap sistem iklm di bumi.


Perubahan iklim global pada prinsipnya disebabkan oleh naiknya gas-gas karbondioksida, gas metan, dan gas-gas lain pada beberapa dekade ini. Gas-gas tersebut secara normal, yang berada dalam jumlah kecil di atmosfer, dapat meneruskan cahaya matahari sehingga menghangatkan permukaan bumi. Namun, gas-gas tersebut beserta uap air menahan pantulan energi panas dari bumi sehingga memperlambat pengeluaran panas bumi ke angkasa. Alhamdulillah, terimakasih ya Ngin!

Angin, semalam aku terlantar dalam sebuah imajinasi. Aku menjadi seorang pemimpin dalam sebuah komunitas. Aku memikul beban tanggungjawab yang begitu besar terhadap komunitasku ini. Angin, kesibukanku bertambah. Gajiku otomatis juga bertambah. Pemikiran dan strategi mempertahankan organisasi dalam komunitas terus menjejali otakku. Karena pastilah mereka menganggap aku adalah malaikat yang dapat terus menyelamatkan komunitas ini.

Dalam kondisi seperti saat ini aku dituntut untuk terus eksis mempertahankan komunitas ini dalam berusaha. Aku harus mempunyai pemikiran strategis dalam setiap bertindak agar tidak meleset, khususnya pada masalah-masalah ekonomi. Karena buatku ekonomi adalah hamper segalanya untuk membentuk organisasi ini kuat. Apalagi usahaku ini dalam kondisi di luar normal akibat persaingan. Angin , berikan khabar-khabar bagaimana mengatasi usaha yang hamper pailit? Seperti banyak kejadian akhir-akhir ini.ngeri aku, Ngin!

Kondisi perekonomian In­donesia tidak akan ter­le­pas dari pe­ngaruh krisis fi­nan­sial global yang tengah ter­jadi. Wa­lau­pun pe­nga­ruh­nya berbeda di antara ka­langan usaha, po­­tensi pailit terhadap sebuah pe­ru­sahaan selayaknya di­per­­hatikan oleh pe­me­rin­tah. Termasuk system kompetisi usaha. Namun aku tetap selalu berusaha memimpin orgasinasi ini sampai darah penghabisan!

Angin, saat ini aku banyak kehilanagan, meski banyak pula yang aku dapatkan, tetapi aku merasa ini tidak adil. Aku kehilangan hal-hal krusial terhadap kehidupan ini. Alhamdulillah aku selalu sholat 5 waktu untuk memohon kepadaNya , semata-mata demi amanah yang aku emban ini.Aku Aku kehilangan waktu bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan orang-orang yang mungkin perlu keberadaanku.

Aku tidak ingin seperti pemimpin kebanyakan saat ini. Kehilangan kendali kemanusiaan, kendali social dan hamper tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri? Korupsi, perselingkuhan dan polah tingkah “haram” lainnya. Kau bisa merasakan itu Angin? Aku yakin kau merasakan itu.Dalam ruang imajinasiku ini, sengaja aku ingin bercengkrama denganmu Ngin, seperti juga  berdoa kepada Allah dzat yang Agung memohon baerokahnya, karena hanya Dialah yang dapat berbuat segalanya di dunia ini. Kaupun dalam kendaliNya khan?.

Meski wujudmu hanya dapat aku rasakan, dan aku lihat  dari riak gelombang daun ilalang, setidaknya bebanku terasa ringan manakala persoalanku ini telah aku bagikan kepadamu. Aku berharap engkau tetap menemani embun pagi dan menggoyang-goyangkannya di pucuk daun ilalang, memberikan kesegaran pada mahkluk Tuhan, dan jangan lupa jagalah bumi ini agar tetap seimbang, tahanlah amarhamu, karena hembusan seporadis dan sangat kuat dapat membahayakan aku dan segenap umat manusia di bumi ini.Salam manis buatmu***Nangkris

Buku Catatan Sejarah, Sebuah Pilot Project (2-habis)

.....“Kalau kalian ingin belajar sejarah dengan runtut, contohlah catatan buku ini. Semua yang saya jelaskan ada semua dalam catatan buku ini” kata Pak Daud.(dari kumpulan:“Di Sudut Sidomukti”)...selanjutnya...

 Bag:2
“Karena sejarah adalah pelajaran yang terkait waktu, maka masih ada kaitannya dengan peristiwa terdahulu. Tidak apa-apa, seperti buku catatan ini, ada lembar-lembar tempelan yang masih terkait waktu antara sejarah saat ini dan sebelumnya” lanjut Pak Daud., membuat aku menjadi bangga.

Memang aku selalu memberi tambahan dengan menempelkan catatan yang masih terkait dengan catatan sebelumya. Tidak seperti teman-teman umumnya yang ditulis di sembarang tempat. Dipojok buku, bahkan ditulis vertical dicukup-cukupkan. Terkesan tidak rapi.

Pada akhirnya Pak Daud meminjam buku itu saat mengajar di 4 ruang kelas 2 SMP. Aku di II-1, sementara kelas yang lain yang aku maksud itu adalah kelas II-2, II-3 dan II-4. Aku semakin bangga. Meski bermacam reaksi timbul dari beberapa teman-temanku. Ada yang menyambutnya sinis dan menganggap terlalu berlebihan. Karena Pak Daud memberikan instruksi agar membuat kreasi catatan itu seperti buku milikku itu. Pokoknya buku catatan sejarhaku seolah menjadi “pilot project” yang harus menjadi referensi. Namun tak sediki yang memberi pujian dan ingin mencontohnya.

Satu-satunya teman yang mempunyai hak istimewa meminjam itu adalah IR. Seolah-olah buku komik “Gundala Putra Petir” , buku catatan sejarahku selalu di bawa-baawa IR kemana-mana. Kadang terlalu berlebihan dengan memamerkannya kepada  rivalnya JT- CI (jangan tanya cewek ini). Konon ibu IR terkesan dengan hasil karyaku ini. Dua penghargaan sekaligus aku terima, dari IR dan ibunya, aku bangga sekali.(dari catatan:Di Sudut Sidomukti)

Buku Catatan Sejarah, Sebuah Pilot Project

Kalau saja buku itu masih ada pasti akan aku tunjukkan kepada Anda. Buku tebal bergambar Jimmi Hendrix , sengaja tidak aku sampul. Itu adalah kumpulan catatan sejarah mulai kelas 1 hingga kelas 2, dan masih tersisa, cukup untuk dilanjutkan hingga kelas 3 nanti. Hamper semua buku catatanku menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari kelas 1 sampai kelas 3, terintegrasi dengan bagus. Hal ini aku maksudkan disamping untuk kerapian hal ini juga sangat membantu dalam mengukur kemampuan telusur satu matapelajaran dari kelas satu hingga kelas dua.

Di dalam buku itu adalah rangkuman diluar buku diktat. Setiap keterangan guru sejarah, Pak Daud, selalu aku catat. Point demi point yang aku anggap itu penting tak akan luput dalam catatanku. Ini penting. Karena guru yang baik adalah tidak hanya mencari materi ulangan dari buku diktat tetapi dari segala sumber bacaan lainnya, Koran dan catatan yang menjadi keterangan dari buku diktat yang dijelaskan setiap mengajar di kelas.

Aku mempunyai corak tulisan yang bagus. Aku bisa menulis gedrik maupun latin dengan tegak, miring (italic). Aku mencontoh tulisan Bapak yang bagus sekali. Sejak aktif sebagai polisi sampai memimpin PEPABRI (Perkumpulan Purnawirawan ABRI) selalu aku lihat dan sesekali aku contoh.

Dengan pangkat terkahir sebagai AIPTU (Ajun Inspektur Satu atau LETTU (Letnan Satu) , dua strip di pundak, yang setingkat lagi menjadi Kapten, keberadaan Bapak sangat dipentingkan saat purna. Sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Garuda. Sebagai Ketua Tennis Lapangan. Sebagai Ketua Bulutangkis , sebagai Ketua sebuah partai dan masih banyak lagi jabatan yang diemban Bapak.

Karena buku catatan sejarah ini begitu rapi dan komplit maka tak lepas jadi objek pinjam meminjam antar teman. Baik teman cowok terlebih teman-teman cewek. Hingga suatu saat Pak Daud, guru sejarah yang masih muda tetapi rambutnya sudah banyak beruban, karena banyak menghafal sejarah Indonesia dan Dunia. Mulai tahun perang , perjanjian bahkan tanggal lahir tokoh pahlawan Nasional, saat mendekati IR, pacarku saat itu.

“Coba lihat catatanmu, IR” pak Daud mendekati bangku IR sambil melepas kacamata minusnya, dan mengambil buku catatan bergambar Jimmy Hendrix.

“Itu punya Yudi Pak” jelas IR. IR memanggilku dengan panggilan Yudi.

Tak ayal buku itu dibawa ke depan kelas oleh Pak Daud ditunjukkan kepada teman-teman.

“Kalau kalian ingin belajar sejarah dengan runtut, contohlah catatan buku ini. Semua yang saya jelaskan ada semua dalam catatan buku ini” kata Pak Daud.(dari kumpulan:“Di Sudut Sidomukti”)

Kemenangan Instan Yang Berakhir Fatal!

Tubuhku tergeletak dengan kondisi setengah sadar di kursi rotan. Ibu bingung harus berbuat apa, melihat  kondisi tubuhku dengan muka yang pucat sesekali meronta-ronta mengerang kesakitan. Ibu sangat mencemaskan keadaanku.

“Nanang…bangun nak. Ini ibu” aku juga tetap tak merespon. Ini bukan bentuk pembalasanku ketika aku selalu bercerita IR kepada Ibu yang selalu tidak merespon.

Karena lama aku terus tidak sadarkan diri ibu berteriak-teriak minta tolong. Ibu menangis. Memikirkan anaknya yang “bagus” tergeletak lemas tak sadarkan diri. Sementara aroma minyak kayu putih dicampur bawang merah meliputi ruang teras dapur. Obat tradisional itu dioleskan Ibu di seputar perutku yang mual , mulas, seperti diremas-remas dan panas.

Aku tidak tau, apa perasaan Ibu saat itu. Apakah takut kehilangan aku. Aku yakin, segala apa yang telah diperbuat Ibu kepadaku terus menghantuinya. Perasaan menyesal saat mencubit pahaku (bhs.jawa:nyetol) bila  aku tidak memberi kabar terlambat pulang sekolah.  Ibu ingin meminta maaf kepadaku? Atau berjanji tidak akan melakukan itu lagi? Walaupun apa yang telah dialkukannya itu merupakan “madu” bagiku untuk tidak berbuat itu dikemudian hari.

Bude Soekram, ibunda Jon, datang membawa sabun yang sudah dibentuk seperti jari telunjuk. Yang kemudian dimasukkan ke duburku. Aku tetap tak berreaksi. Kakak permpuanku Mbak Eny, membawa kelapa muda yang dipanjatnya di pekarangan depan rumah, orang jawa bilang degan ijo. Konon air kelapa muda hijau ini dapat membunuh racun yang bersemayam ditubuh. Biasanya digunakan untuk orang yang keracunan.

Perlah-perlahan ibu memaksa mengguyur mulutku dengan degan ijo ini. Terus menerus. Ibu pasti tak lupa berdoa agar aku segera siuman dari tragedy ini. Terus itu Ibu lakukan seperti “menggelonggong” sapi potong , agar berat badan sapi menjadi berat dan berharganyapun tentu  mahal.

Ibu semakin cemas. Bapak dan kakak-kakakku yang lain tak ada di rumah. Sementara udara panas di kemarau awal itu menyengat  wilayah pesisir di desaku.

“Hueeek….huweekkk…huweekk” aku muntah. Ini sebagai reaksi air kelapa muda yang hangat mulai merasuk dan menyejukkan rongga perutku. Ada beberapa buah  biji cabai rawit dalam muntahanku. Jelas biji cabai rawit itu tak tercerna oleh ususku. Adajuga mangga muda yang juga tak tercerna dengan sempurna.

Aku berkeringat dan mulai siuman. Ibu memciumiku berkali-kali dan…menangis! Bude Soekrampun kelihatan agak lega. Ibu menyeka keringat yang mengguyur tubuhku sambil menyeka kening dan melepas kaos bertulisan Bali yang saat itu kukenakan. Ibu mencium aku lagi. Aku masih lemas dan masih terasa mual dan sedikit pusing. Hanya kakaku Mbak Eny keliahtan masih terus cemas. Betapa tidak, Mbak Eny lah yang mengajak lomba makan rujak mangga muda dengan garam dan cabe. Dalam lomba itu Mbak Eny membuat suatu  ketentuan siapa yang lebih cepat menghabiskan irisan mangga mudah yang telah ditakar sama, dan merasa tidak pedas itulah pemengnya. Dasar aku. Yang selalu ingin menjadi jagoan dan terus ingin menjadi terbaik dan menang, segala cara aku tempuh. Termasuk dalam lomba ini.

Kulihat Mbak Eny, saat itu,   dengan seksama mengunyah irisan mangga. Dan kulihat irisan mangga ditangannya juga masih banyak . Aku mulai memasang strategi. Aku mengunyah mangga dan cabe rawit ala kadarnya yang penting segera masuk dalam rongga perutku dengan cepat. Bahkan cabe rawit dan garam aku telan begitu saja tanpa aku kunyah. Begitu aku ulang terus menerus tanpa mengetahui akibat yang akan aku rasakan. Pada ahirnya aku hamper saja mengalami hal yang fatal. Dan membuat Ibu cemas melihat akibat dari kecerobohanku itu.

Ibu sempat marah kepada kami, saat aku ceritakan sebab akibat aku menjadi lemas seperti batangan tebu yang telah digiling diambil airnya.

Akan selalu aku ingat. Kemenangan dengan proses yang instant akan membuahkan hal yang fatal. Kemenangan harus melalui proses yang telah ditentukan. Tanpa ada penyimpangan sedikitpun. Namun terkadang manusia diburu oleh target-target kemenangan dengan cara-cara instant. Sehingga ada beberapa proses yang dilewatkan. Bahakan sedikitpun tidak melalui proses.

Akhirnya kemenangan instant ini banyak memberikan filsofi bagiku untuk memamahami proses yang harus ditaati. Hampir saja kemenangan yang aku capai dalam ceritaku ini membuat hal yang fatal. Maaf Ibu!

Semua kemenangan tentulah direncanakan. Dengan strategi apa kemenangan itu bisa dicapai, tergantung siapa lawan kita. Muhammad Ali, petinju legendaries Amerika diberi julukan `si mulut besar` lantaran dia selalu membuat psywar dengan mengolok-olok terlebih dahulu setiap lawan mainnya di ring tinju.(dari catatan:Di Sudut Sidomukti)

Cinta , Mengapa Dapat Menembus Multiruang?

Ketika perbedaan sudah ada sejak lahir pada diri setiap manusia, maka akan semakin terasa tatkala berada dalam kebersamaan. Perbedaan hak hakiki setiap manusia. Namun pada dasarnya kehidupan ini bisa berlanjut oleh karena perbedaan yang saling mengisi satu sama lain.

Sepasang remaja yang baru mengerti arti cinta dengan lawan jenisnya , awalnya tak akan mengerti jika cinta mereka harus tumbuh dan merekapun saling membutuhkan. Tanpa disadari, semakin dewasa tingkat hubungan itu semakin terasa bawa banyak perbedaan dalam status hubungan ini. Seorang pria dan seorang wanita, keyakinan yang berbeda, tetapi "diasah"  oleh kebiasaan saling mengenal satu sama lainnya akhirnya perbedaan ini dapat menyatu, namun ada satu perbedaan yang berkata lain.

Keyakinan yang berbeda! lalu kemana arah selanjutnya yang harus ditempuh dengan perbedaan yang satu ini? sementara cinta dapat menembus multiruang , dipisahkan? atau dilanjutkan dengan berbagai problema yang akan dihadapi di depan?...mengapa cinta  dapat  menembus "multiruang"? (buat seseorang untuk direnungkan dan ambil keputuskan-Nangkris)

Menahan Muntah

Ketika aku simpan sumpah serapah dan kukulum di bibir, tak bisa. Karena suasana di luar jendela hati semakin buas. Kebohongan yang reot, pencintraan yang semakin melorot dan penderitaan  kaki-kaki kasar di tanah gersang hanya jadi catatan usang.

Baju kumal, perut tipis bersandal tak pernah diurus meski hanya sejurus. Sekarang aku mual dan menahan muntah! Melihat gerakan-gerakan slow motions di panggung sandiwara gila. Meski pemerannya tampan berdasi tetapi dialognya pahit getir bagai petir. Mendekatlah akan kutonjok! dengan kata-kata logis dan berprikemanusiaan, agar lehernya yang kaku dapat menoleh ke keranjang sampah sebelah.

Mencari kebenaran di negeri ini berliku-liku, orang jahat bergandeng tangan dengan orang cerdik. Di langit ada orang-orang kaya raya  di bumi hanya kaum sepi rejeki tertambat di rel kereta. Kritik pedas sudah menyublim, seperti hilangnya pedas sambal di kakilima karena harga cabe melambung. Masihkah kita akan bicara dosa bila masih tertawa di depan kaca? Udara penuh dosa, ada menteri tidak merokok kena kanker paru? Masihkah orang bijak bayar pajak, bila uagnnya di kotak perompak?

Aku hanya akan berlindung pada Tuhan, akan kucari kebenaran seperti beningnya embun pagi saat debu masih tidur di ruang pengap menyentuh bibir bumi. Kalau ada kabar dari kupu-kupu tentang kedamaian, akan aku nyanyikan seloka indah di taman bunga agar kembang-kembang mekar sumekar.(Nangkris)

Cinta Milik Siapa Saja

Kaos oblong merk swan kumal. Awalnya warna kaos itu jelas putih dan bersih. Tetapi sekarang saat kaos itu melekat ditubuh Paidi berubah menjadi coklat. Kalau dulu ketika keluar dari pabriknya tentu kaos itu berbau khas katun. Tetapi entah sekarang saat Paidi menggunakannya kaos itu berbau apa?

Saat melihat jam di dinding kantor pasar, menunjukkan pukul setengan enam pagi, Paidi mulai cemas. Karena tugas rutinnya sebagai tukang sapu di pasar “tiban” itu belum kelar. Matanya sayu karena mengantuk. Pikiran masih gusar, tidak seperti biasanya, tegar dan selalu riang meski dengan gaji 200 ribu sebulan itu atas iuran pedagang di pasar tiban itu.


Sudah beberapa orang pedagang menyapanya tetapi tugas pokoknya juga belum selesai. Ada perasaan yang memalaskan untuk bekerja. Ada tugas yang memerlukan keberanian mental menyelesaikannya. Kalau tidak sendi-sendi kehidupanyapun akan rapuh!


Paidi 28 tahun, SD pun tak tamat. Orang tuanya dua-dua telah tiada. Saudara satu-satunnya kehidupannya tak lebih baik dari padanya. Kepada siapa menyelesaikan kasus berat daripada menyapu 20 kali halaman pasar ini?, pikir Paidi. Tanpa terasa dia terdiam dan pikirannya bergejolak ketika suatu ketika mengenal Salmah, anak pedagang buah di pilar tengah. Ya Salmah!


Dia tak bisa mengutarakan dan memberikan lambang cinta kepada Salmah, seperti Shah Jehan membangun Taj Mahal kepada Mumtaz Ul Zamani gadis yang kemudian menjadi isterinya. Dia bukan penyair yang menyuarakan cintanya lewat puisi. Dia hanya seorang tukang sapu yang kumal dan bau. yang mempunya naluri cinta , sama seperti Romeo kepada Julliet.


Malam, suatu ketika dia mulai mengendap-ngendap menuju pilar tengah. Malam yang sangat menyiksa seumur-umur. Bahkan dia enggan tertidur juga bermimpi. Paidi hanya bisa membayakangkannya Salmah! Gadis pilar tengah yang sangat menawan dan mengguncangkan hatinya. Tak berani berbuat apa-apa karena terhalang dosa.


Diambillah sepotong buah mentimun kecil yang sudah layu. Digoreskannya laksana pena pada media tembok pasar yang sudah tak pernah dikapur. Menggambar sebisanya, Laksana Leonardo Da Vinci melukiskan Monalisa yang misterius itu, dengan harapan Salmah mengerti apa sebenarnya makna gambar itu. Bagi Paidi pilar tengah pasar menjadi sebuah tempat yang romantis, semenjak kehadiran Salmah, anak pedagang buah.


Ach , Salmah. Paidi melamun. Gadis desa yang menyimpan kerinduan. Menyimpan harapan, terkadang meneduhkan hati kala selintas memandangya.Seperti layaknya Jack Dawson menumbuhkan benih cintanya kepada Rose dalam cerita Titanic. Indah sekali dunia.


Tetapi hanya kandas saja setiap malam tiba. Selalu gusar dan bahkan gemetar ketika bersimpangan dengan gadis keibuan itu. Apalagi, ketika melihat sosoknya Paidi sangat pesimis diterima oleh Salmah, apalagi bapaknya yang keras. Malam bagi Paidi hanya selingan dalam hidup yang berkelanjutan, besok, sekarang dan yang akan datang. Andai saja tanpa malam, masih akankah cinta itu tumbuh?


Ternyata, cinta milik siapa saja yang hidup di dunia ini. Tidak memandang profesi, martabat dan derajadnya. Cinta memang universal dan berlaku bagi siapa saja. Kadang juga buta dan egois bahkan menyengsarakan...naudzubillah! Peliahralah cintamu! (fiksi-nanang kristyo m, ilustrasi: 3.bp.blogspot.com/.../s400/Sepasang-Sejoli.jpg)

Musnahnya Sebuah Hakekat

Diilhami dari sebuah lagu dari Ebit G. Ade "Tentang Seorang Sahabat"

Masuk ke salah satu ruangan rumah Bhanu yang berada di pinggir jalan raya terlihat seperangkat gamelan jawa. Tertata rapi meskis sudah jarang digunakan. Lantai rumah masih menggunakan bin teraso. Sepertinya rumah Belanda sebelumnya. Tembok setiap ruangan pilar-pilarnya besar dan beratap tinggi. Bila masuk ke beranda rumah ini terasa sejuk, karena jarak rumah dengan jalan raya dibatasi dengan berbagai tumbuhan produktiv seperti buah mangga, jambu air dan lain-lain.

Bhanu hidup hanya dengan seorang adiknya Wisnu, serta keduaorangtuanya yang berasal dari Jawa Tengah. Ibunya sopan sekali dengan kromo inggil yang halus, kadang tak tahu apa arti yang diucapkannya. Demikian pula bapaknya yang seorang guru dan pelatih gamelan. Sepintas dapat diyakini keluarga ini masih punnya titah bangsawan dan ningrat Jawa Tengah yang masih memegang teguh adat istiadat Jawa.

Semua aturan hirarki antara anak dan orang tuan, mas dan adhi masih saja terpelihara dengan rapi dalam suasana rumah ini. Karena kalau tidak ibu pasti akan menegur dengan halus dan itu harus dituruti. Kadang juga bisa marah meskipun dengan kata yang halus tetapi bermakna dalam bagi kedua puteranya itu. Bahkan pernah Wisnu sepulang sekolah membuka sepatu kemudian menaruhnya dengan asal-asalan tidak tertata ditempat yang telah disediakan, ibu marah besar kepada Ipah pembatunya karena menolong merapikan sepatu Wisnu yang tidak tertata rapi.

Ke sekolah sengaja tidak diberi uang jajan dengan alasan takut membeli jajan sekolah yang tidak bersih dan tidak hygienis. Air minum dan kue sanck disediakan dari rumah. Ibu trauma dengan kejadian yang dialami Bhanu. Sepulang sekolah muntah-muntah karena diajak minum es tape dipinggir jalan oleh teman-teman SMA nya dulu. Baru ketahuan dan matur ibu saat diinfus di rumah sakit milik perkebunan.

Meningjak dewasa saat ini ibu semakin cerewet. Dengan status sosial yang diemban Bhanu sebagai karyawan sebuah bank negara, setiap kali selalu terngiang nama Anggraeni. Gadis yang juga masih “berbau” keraton puteri bapak Sudrajad yang tidak lain adalah teman semasa muda keluarga ini.

“Ini dapat kiriman sulaman buat almari hias, dari Bu Drajad`` kata ibu ketika Bhanu baru pulang kerja.

“Susah loh le (le: sebutan untuk anak lelaki) buat seperti ini neh ora tlaten” sambung ibu. Bhanu diam saja meski tahu ibu ingin respon tentang oleh-oleh yang Bhanu yakin itu pasti dibuat oleh Anggraeni, sambil terus mengunyah sambal goreng kesuakaannya.

“Kamu kapan ke Jogja le ?`` rayu ibu pada Bhanu
“Bune, Bhanu masih belum bisa dalam bulan ini” sahut Bhanu terkesan malas.
“Njur kapan?”
“Nantilah Bune, pasti Bhanu ke Jogja”
“Mampir yo ke rumah Bu Drajad. Ora enak dikasih oleh-oleh ora mbalesi”
“Di paket saja Bune” sanggah Bhanu dengan nekad.
“Loh kowe opo ora kangen Eny (Anggraeni) toh”
Inilah sebetulanya yang ingin ibu sampaikan pada Bhanu dari seluruh isi percakapan itu. Bhanu sudah tahu trik-trik ibu masalah usahanya untuk mendekatkan gadis Jogya itu dengannya.
“Injih Bu” itu saja jawaban Bhanu

***


Setiap gerak langkah pria gagah dan tampan ini kelihatan kaku. Irama kediktatoran ibundanya melekat erat dalam setiap geraknya. Sementara perjalanan panjang yang tidak pernah diceritakannya pada ibu tentang hubungan asmaranya dengan Sukarsih puteri Kepala Kantor Pos, ada halangan bagai tembok raksasa di China untuk menceritakan. Bagaiaman ibu tahu nanti apabila pria putih bersih ini telah menjalin hubungan dan telah mencampakkan Anggraeni pilahan Bune?

Hingga pada suatu saat kebetulan ketika bulan purnama tengah malam sengaja Bhanu mengajak ibunya duduk di teras rumah tua yang kokoh, keinginannya terpaksa tertumpah atas kejujuran hatinya untuk mencintai Sukarsih.

“Bune pangapunten (maaf). Kejujuran cinta dalam hati Bhanu berbicara lain”
“Makasudmu opo to Le?”
“Sebagai lelaki Bhanu punya dasar cinta yang hakiki pada seorang gadis”
“Ngomongmu koq malah aneh to Le.Kemudian maksudmu itu apa?” diucapkan ibu dengan lembut tetapi dalam.
“Bune, ijinkan Bhanu mencintai wanita yang bukan Angraeni” Bhanu agak berkeringat nerves.
“Njur piye? Bagaimana ibu harus mengatakan ini kepadamu sebagai anak yang telah ibu besarkan?” perkataan ibu kali ini tidak sehalus biasanya.

Suasana hening sejenak. Bhanu mulai kacau. Dia mempunyai hakiki cinta yang mendasar, sementara yang dihadapinya saat ini adalah orang yang telah membesarkannya bersama Wisnu adhinya. Teringat Bhanu saat keluarga besar Sudradjat mengunjunginya beberapa waktu lalu. Anggraeni gadis putih, berambut ikal khas keraton, dengan alis wulan naggal sepisan (bagai bulan jawa tanggal satu untuk alis yang indah). Keluarga ini telah membentuk sebuah keputusan untuk menjodohkan Bhanu dengan Anggraeni kelak.

“Mohon ampun Bune, tolong Bhanu Bune.Ijinkan Bhanu mencintai Sukarsih“
“Bhanu, tidakkah kamu merasa kasihan pada Bapak, bagaimana pertalian ini sudah dijalin.Iki ora biso ditawar Le“

Tidak tahan dan agar tidak larut dalam emosi, perlahan Bhanu pamit pada ibu dan masuk dalam kamar. Pikirannya melayang. Terbayang Sukarsih yang terakhir ditemuinya di toko buku Gramedia. Gadis sederhana yang telah mengguncakan hati. Dia telah mengerti makna kebersamaan yang telah hampir satu tahun dilaluinya bersama Bhanu. Begitu dewasanya Sukarsih menghadapi rintangan keluarga lelaki yang dikenalnya ini. Bagi Sukarsih, rumah Bhanu yang asri itu tak ubahnya seperti neraka. Pastilah kekecewaan yang akan didapatinya bila harus menemui ibu di dalam sana. Tak akan ada artinya. Bahkan Sukarsih sangat menyayangkan sikap keluarga itu meski sangat memaklumi adat istiadat jawa « kuno » itu.

Hal yang sangat disayangkan ketika suatu saat Bhanu mengatakan bahwa jiwanya telah kehilangan hakiki sebagai lelaki. Jiwanya telah terampas oleh ikatan adat yang masih dipelihara. Bahkan pada akhirnya Bhanu harus kehilangan Sukarsih, harus kehilangan segala-galanya. Bibirnya kini keluh setiap bertemu gadis. Biarlah semua disimpannya dalam kekeluan di dadanya. Bahkan kejantanan yang seharusnya dia miliki kini nampak pudar bagai lampu lentera yang terombang ambing angin. Hari-harinya hanya menghitung hari tanpa sedikitpun mengurus seperti apa kehidupan di depan sana ? (Fiksi :Nanang Kristyo)

Prahara Lentera Sutra

Prahara Lentera Sutra.
Sebuah Cerpen : NANGKRIS

Emak dan Yuk Mi dua orang ibu dan anak yang harus selalu sibuk setiap pagi menjelang anak-anak ke sekolah. Karena keluarga sederhana ini hidup dari hasil menjual jajanan anak sekolah disamping pekerjaan Lik Sutra sebagai petugas kebersihan sekolah. Lik Sutra adalah suami Emak yang usianya jauh lebih muda dari usia Emak.

Konon menurut cerita tetangga, lamaran Lik Sutra salah alamat. Dia meminang Yuk Mi tetapi justru yang jadi isterinya adalah Emak, janda beranak satu itu.Saat dilamar Yuk Mi sebenarnya sudah akan dinikahkan dengan pria pilihan Emak, tetapi rencana itu batal hingga akhirnya Yuk Mi harus menjadi perawan tua.Patah hati mungkin?

Rumah keluarga ini mempunyai beberapa petak kamar berjajar. Paling Timur ada gudang yang difungsikan sebagai dapur kemudian sebelahnya ada ruang untuk parkir sepeda. Sebelahnya lagi adalah sebuah kamar yang ditempati kos Mas Herman, seorang pegawai negeri yang baru bekerja beberapa bulan. Sementara Yuk Mi memang berada di petak paling pojok sebelah kamar Lik Sutra .

Aku tahu betul kesibukan keluarga ini termasuk seorang pemuda yang kost di rumah itu. Karena aku hampir setiap hari menjeput Lik Sutra ke rumahnya dan menemani selama perjalanan ke sekolah. Lik Sutra membawa barang-babarang dagangan dengan sebuah sepeda kebo tua yang sudah berkarat. Ada sarung goni di boncengan sepeda itu sebagai tempat alat-alat dapur yang diperlukan untuk berjualan di warung sekolah.

”Gimana Kris, nanti malam kita cari lagi?” Lik Sutra mengawalai pembicaraan kami di sepanajng jalan setapak menuju sekolah Dasar Widodo

”Boleh.Tapi jangan sering ditinggal Pak Lik” jawabku.

”Iya, Pak Lik harus menumbuk bumbu pecel khan, kalau tidak, diomeli eMak” saut Lik Sutra sambil memainkan rokok upetnya di bibirnya yang hitam. Wajah tua Lik, mirip Franconero, bintang film koboi. Jenggot dan cambangnya tajam.

Lik Sutra sering meninggalkan kami berempat, aku, Tito, Karno dan Agus setiap mencari jangkrik di kebun jagung milik haji Fadholi. Suasana gelap apabila malam dipenuhi suara nyaring jangkrik-jangkrik yang menjadi sasaran kami di kebun itu. Apabila kami mengeluh ketakutan karena ditingalnya, maka Lik Sutra selalu memberi semangat kepada kami dengan petuahnya.

”Laki-laki tidak boleh jadi penakut. Rasa takut itu hanya diciptakan oleh pikiran kalian” kata Lik Sutra suatu saat.

Pernah kami dimarahi Emak karena Lik Sutra mengajak kami mencari jangkrik.Mungkin saja Lik Sutra ada masalah dengan Emak. Kami kecewa saat itu tidak membawa seekor jangkrikpun. Namun rencana nanti malam kami harus mendapatkan jangkrik ”jalitheng” yang selalu menjadi incaran kami.

***

Malam ini kami sudah siap mencari jangkrik di kebun jagung haji Fadholi. Dua obor sudah kami siapkan. Aku, Tito dan Karno satu obor, Agus bersama Lik Sutra. Perjalanan kami menuju kebun jagung memerlukan waktu setengah jam. Jalan setapak, sebelah kanan sebuah sungai yang deras airnya. Sungai inilah yang mengairi seluruh sawah di dusun kami. Kebun tebu dan jangung berada di ujung timur setelah areal persawahan.

”Aku nggak nonton lagi film Mannix malam ini” keluh Tito, mengawali pembicaraan setelah setengah perjalanan. ”Aku malu, setiap nonton di rumah pak Lurah, sering ketiduran” lanjut Tito.

”Kalau kamu mau nonton kenapa kamu ikut?,nonton saja” celetuk Karno.

”Jangan terlalu sering nonton TV di rumah Pak Lurah, neneknya cerewet” saran Lik Sutra kepada Tito, mungkin itu juga kepada kami yang juga sering nonton TV di rumah Pak Lurah, satu-satunya di desa kami. TV hitam putih 14 inci merek Johnson yang tutupnya dapat dilipat model harmonika.

”Habis Dunia Dalam Berita sudah pulang, lagian sungkan kalau dibuatkan kopi” lanjut Lik Sutra.

Kami sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan kadang Lik Sutra cerita yang lucu-lucu sehingga membuat kami terpingkal-pingkal. Agus pernah terjungkal di pematang tanaman tebu yang lumayan tinggi. Gara-garanya kami harus menuruti komando Lik Sutra selama berjalan di pematang. Agus selalu berada diurutan ke dua dari depan setelah Lik Sutra. Sesuai komando Lik Sutra, obor baru boleh dinyalakan setelah sampai di kebun jagung.Mungkin ini sebuah efisiensi. Sehingga perjalanan di suasana gelap gulita itu hanya disinari cahaya bulan dan bayangannya di bawah sungai.

”Awas melompat” kata Lik Sutra, ketika melewati batasan pematang, kamipun dibelakangnya ikut melompat.

Suatu ketika, sial, Agus yang berada di urutan kedua itu terjungkal ketika ada pembatas pematang Lik Sutra justru tidak memberi komando,kami melihat nampak langkah Lik Sutra memang tenang. Agus melangkah juga tenang sekali.

”Jegurrrr...” Agus terjatuh ke sungai.

Mengetahui Agus terjatuh, Lik Sutra malah tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya memang disengaja. Tapi kami tetap larut dengan canda dan tawa, seperti larut malam yang menjemput pejalanan ini.Malam ini kami mendapat enam jangkrik jantan yang bagus-bagus dengan bunyi yang nyaring sekali. Agus telah menyiapkan tempat yang terbuat dari bambu yang dipetak-petak seperti rumah tingkat, untuk tempat jangkrik hasil kami masing-masing. Bersyukur Lik Sutra setia menemani hingga pencarian jangkri usai malam ini.

”Sudah, simpanlah jangkrik-jangkrik itu, besok setelah kamu belajar kita cari lagi yang bagus” kata Lik Sutra, sambil membasuh tangannya yang berbau minyak tanah dari obor yang terbuat dari bambu itu.

Lentera obor yang dihasilkan dari batang bambu dengan sumbu kain sobekan kaos itu sebagai lentera yang memberi penerangan bagi kami untuk mencari jangkrik. Pernah suatu malam membawa senter milik bapak yang berbaterei delapan, tapi hilang jatuh di sungai.

Begitulah dalam setiap kesempatan, kami memang anak-anak desa yang penuh kebersamaan apalagi dengan Lik Sutra yang sudah seperti pak lik kami sendiri. Penuh humor, sabar dan sering memberi kami makanan.


***

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kami sangat kesal pada Lik Sutra. Rokoknya ketinggalan dan harus kembali ke rumah, perjalanan baru saja beberapa langkah. Sebenarnya setiap berangkat mencari jangkrik, kami penuh kekhawatian ditinggal di kegelapan malam oleh Lik Sutra. Katanya mau kembali dan bergabung tetapi ternyata malah pulang dan tidak kembali. Meski kadang Lik Sutra membawakan kami makanan kecil seperti krupuk,kacang saat meninggalkan kami berempat, tetapi itu tetap membuat kesal.Lebih-lebih Agus merasa sangat kesal.

”Kalau hanya untuk ditinggal, kenapa Pak Lik mengajak mencari jangkrik!” keluh Agus.

Aku memahami perasaan Agus. Karena Lik Sutra sebagai partner mencari jangkrik sering meninggalkannya. Ini juga merupakan kekesalan kami berempat. Terkadang timbul niatan kami untuk menolak ajakan Pak Lik Sutra. Tapi kami sudah terlanjur senang dengan petualangan ini. Melihat eksotisnya pucuk-pucuk daun padi yang ditebari cahaya bulan. Ujungnya menari-nari kian kemari seolah memberi salam menyambut kehadiran kami. Suara katak, suara serangga malam, bagi kami itu adalah suara-suara indah.

Lokasi malam di areal persawahan ini pasti masih lebih indah dari Taman Nasional Kakadu, sebelah timur Darwin,Australia. Menurut cerita Pak Broto tetanggaku yang narsis, seorang pasca sarjana yang pernah belajar Human Resource And Development di Australia, Taman Nasional Kakadu menutupi area seluas 19.804 kilometer persegi, terbentang hampir 200 kilometer dari utara ke selatan dan lebih dari 100 kilometer dari barat ke timur. Bahkan Taman Nasional ini sebesar Israel. Tapi ini tak seberapa dibanding petualangan di areal sawah yang membentang laksana karpet Turki, di dusun Sidomukti yang indah ini.

Seperti kebiasaanku, sepulang sekolah menaruh tas, ganti baju kemudian makan siang. Ibu sedang mengobrol dengan Emak. Aku tengah menikmati sayur lodeh tewel yang dibuat ibu. Ada irisan petai China, lembaran daun jeruk purut, rajangan tahu dengan santan yang kental dan pedas. Ini masih lebih nikmat dari Lasagna, masakan Italia yang penuh daging sapi.Keringat tanpa terasa sudah mengalir di kening dan punggungku yang telanjang. Sepintas aku mendengar obrolan mereka.

Emak dan keluargaku sudah seperti saudara. Karena sebelum mempunyai rumah sendiri Emak menempati rumah sebelah rumahku, itu diberikan secara cuma-cuma oleh Ibu karena Emak juga sering membantu Ibu memasak. Ada yang beda dalam pertemuan Emak dan Ibu kali ini. Aku melihat Emak menitikkan airmatanya saat berbicara sesuatu kepada Ibu.

Aku berpindah tempat, mendekat menuju pintu yang dekat mereka mengobrol. Sepintas aku sudah jelas, tetapi apa sebenarnya yang mereka ceritakan itu benar?Yuk Mi hamil?. Cepat aku selesaikan makan aku ikut bergabung dan duduk di sebelah ibu.

”Astaghfirullah” sayup-sayup kudengar Ibu mengucapkan kalimat ightiar itu.

Akhirnya tanpa menunggu selesainya obrolan kedua orang tua yang aku hormati itu, aku mengambil kaos Adidas warna kuning kusam, meluncur ke rumah Tito.

”Ayo ikut”

”Kemana Kris, penting sekali ya?”

”Sudah ayo, ke rumah Agus, Karno biar kita susul kemudian”

Kebetulan Karno sudah berada di rumah Agus, akupun memanggil mereka menuju kamar tamu di rumah Agus yang rindang. Rumah dinas camat. Bapak Agus seorang camat.

Pelan-pelan, dengan harapan tidak terdengar oleh oarang disekitar kami, aku berbisik kepada tiga temanku itu.

”Hai...Yuk Mi hamil!” kataku.

”Apa?” Karno mengernyitkan alisnya yang berbulu lebat tanda tidak percaya.

”Jangan ngaco kamu Kris!” ancam Agus. Sementara Tito di sebelahku hanya membelalakkan matanya, entah percaya atau tidak.

”Sekarang Emak sedang membicarakan Yuk Mi, Yuk Hamil” kataku.

Mereka mulai kebingungan antara benar dan tidak. Bila benar, kami sangat menyayangkan keluarga kecil sederhana itu harus tertimpa musibah seperti ini. Kami sebenarnya sepakat siang ini akan mengunjungi Lik Sutra di sekolah, tetapi akhirnya kami urungkan menunggu esok hari. Entah apa yang ada di benak teman-temanku. Apakah seperti aku yang selintas mulai menuduh Mas Herman telah berbuat mesum dengan Yuk Mi. Mungkinkah? Tiba-tiba Agus merapat di tempat dudukku,mulutnya didekatkannya di telingaku dan berbisik.

”Ini pasti Mas Herman?” suaranya serak. Sama Gus, seperti yang aku kira, batinku.Karno dan Tito menerawang juga.Entah apa yang mereka angan-angan.

”Apa Gus?” tanya Karno curiga.

“Mas Herman?” kata Agus mengisyaratkan pelakunya adalah Mas Herman.

“Hah?” Karno nyengir pahit, pahit sekali.

”Kalau benar, akau duluan yang akan menghajar pemuda sombong itu” bentak Karno.

”Sombong dan pelit, aku mau meninjunya” sahut Tito

”Kamu-kamu ini seberapa? Mas Herman bukan lawan kita” saranku.

”Aku mau bawa roti kalung” kata Karno.

”Sudah, ayo kita buktikan sebenarnya siapa laki-laki keparat itu?” ajakku kepada mereka yang sudah tak tertahan.

Aku kemudian menyusun strategi dengan teman-teman setiaku itu. Yang akhirnya saling memamahami tugasnya masing-masing. Besoknya, sore, sepulang sekolah kami menemui Lik Sutra.

”Lik, entar malam kita cari jangkrik lagi ya” aku menyapa Lik Sutra yang tengah menurukan perlengkapan jualannya. Tak nampak Emak dan Yuk Mi. Mungkin saja masih di belakang.

”Badanku hari ini pegal-pegal Kris, besok saja ya” jawab Lik Sutra.Meski kami kecewa tetapi teman-teman sangat memahami kondisi Lik sutra. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan berbagai pikiran. Kami takut menanyakan hal Yuk Mi, khawatir Lik Sutra marah.

***


Malam yang dijanjikan telah tiba. Pencarian jangkrik malam ini beda dengan malam-malam sebelumnya. Karena Karno tidak ikut dalam petualangan malam pekat ini. Tetapi seperti biasa Lik Sutra tetap seperti apa adanya. Bercerita dan kadang membual. Kami tertwa juga dengan bualan-bualan itu. Karena suatu saat cerita-cerita Lik Sutra itu juga aku ceritakan kepada teman yang lain hingga mereka juga tertawa.Setiba di kebun jagung kami mulai sibuk mencari jangkrik. Suara kepalan tangan yang meninju tanah saling bersautan agar jangkrik keluar dari sarangnya.

Jangkrik atau Familia Gryllidae adalah serangga yang berkerabat dengan belalang. Tubuhnya rata, dengan antena panjang.Binatang ini tergolong omnivora dengan suara yang nyaring yang hanya dimiliki jangkrik jantan. Suara mengerik ini sebenarnya untuk mengikat sang betina dan sebagai ancaman buat jantan lainnya yang mengganggu.

Bersamaan dengan petualangan kami di kebun jangung, Karno malam ini mempunyai tugas cukup berat. Karena dia harus menjaga rumah Lik Sutra yang memang sudah kami rencanakan. Lik Sutra tidak tahu strategi kami ini. Tugasnya adalah menjaga dan mengintip kamar Mas Herman yang telah kami curigai berbuat mesum dengan Yuk Mi, sesuai kesepakatan siang kemarin. Sejauh mana pemuda keparat itu tega berbuat nista!

Tigaperempat jam kami telah berada di perkebunan jagung ini, tiba-tiba Lik Sutra mengeluarkan roti sisir yang hanya tinggal tiga.

”Ini buat kamu, Lik Sutra pulang dulu entar Emak marah” kata Lik Sutra menenangkan kami.

Kami kesal lagi. Tetapi aku berharap mudah-mudahan strategi kami siang kemarin dapat membuka tabir yang tengah menimpa keluarga Lik Sutra. Lik Sutra tidak banyak bercerita tentang musibah ini, mungkin karena aib. Kami melihat obor Lik Sutra yang diselipkan di pelepah pisang itu dihembus angin dan ditelan kedinginan malam, lenteranya berangsur padam Sementara aku juga khawatir keberandaan Karno yang saat ini tengah menjadi petugas pengaman rumah Lik Sutra sekaligus mencari bukti kebenaran keterlibatan Mas Herman dalam kasus hamilnya Yuk Mi. Tidak mustahil lagi orang-orang akan menyumpahi pemuda itu. Karena selama bertahun-tahun keluarga Emak, baru kali ini peristiwa zinah ini terjadi. Keparat, Mas Herman! Yuk Sulasmi yang biasa aku kenal Yuk Mi, berpostur tubuh seksi, sepintas wajahnya mirip Yenny Rachman bintang film Indonesia di era 80an. Itukah yang menggoda lelaki lajang laknat itu?

***


Keesokan harinya di sekolah, Karno mengajak kami berkumpul di belakang tembok pembatas sekolah. Kami hanya berempat, Aku,Karno,Tito dan Agus, tak seorangpun mengetahui kami di belakang sekolah ini. Karno memulai ceritanya dengan matanya berkaca-kaca, hidung yang sudah berwarna merah jambu, menandakan dia telah menyimpan dendam kesumat serta kesedihan dan keharuan kepada keluarga sederhana ini. Apalagi melihat nasib Yuk Mi, atau Yuk Sulasmi. Samar-samar kulihat pipi kiri Karno berwarna merah jambu juga, seperti bekas tamparan.Aku tak tega melihatnya.

”Mas Herman!” kata Karno terbata-bata, sambil meninju pohon pisang di depannya berkali-kali .

”Hai, Karno. Kamu ini berkata apa?Tolong tenangkan dulu perasaanmu itu!” kataku.

”Karno, perasaanku sama dengan kamu saat ini, tapi tolong ceritakan yang sebenarnya semalam” pinta Agus.

”Iya, berceritalah dengan sebenarnya Kar” himbau Tito yang bengong di belakang kami.

”Ayo ikut kalian” ajak Karno. Kamipun merangsak ke arah Timur tembok sekolah yang berbatasan dengan kantor Telkom. Karno seperti ketakutan sekali. Karena biasanya Lik Sutra keluar melalui pintu pagar ini melihat-lihat tanaman pisang yang tumbuh di sepanjang sungai kecil ini.

”Aku ditampar Mas Herman” bisik Karno

”Benar, si keparat itu?” tanyaku

”Ayo..tunggu apalagi.Kita harus melapor ini ke Pak Lurah” sambung Agus agresif.

”Tunggu!.Aku melihat semalam, Lik Sutra memasuki kamar pojok tempat tidur Yuk Mi” kata Karno.

”Lalu?” tanya Agus agak gemetar, seperti aku, mungkin juga Tito.

”Aku telah melihat apa yang dilakukan Lik Sutra di kamar Yuk Mi. Tetapi sial Mas Herman terbangun,memergokiku dan mengejar. Tanpa melihat siapa, ditamparnya aku keras-keras” kata Karno.

”Lalu?” desakku.

”Aku meminta Mas Herman untuk mendengar penjelasanku, sambil kubuka penutup sarung di mukaku, kuajak Mas Herman mengintip apa yang tengah terjadi. Ada Lik Sutra di kamar Yuk Mi” cerita Karno.

”Lalu, bagaimana reaksi mas Herman, Kar?” tanya Agus

”Dia berpesan agar aku merahasiakan ini sampai Mas Herman memintanya nanti”

Aku mulai berkaca-kaca.Aku melihat wajah suram Emak saat menceritakan kejadian ini kepada ibu. Apa nantinya yang akan terjadi bila Emak tahu siapa sebenarnya lelaki yang menghamili Yuk Mi? Ternyata Lik Sutra, yang tak ubahnya seperti penjahat saat kami tahu cerita Karno. Diajaknya kami anak-anak desa yang hanya bisa bermalam-malam, kadang duduk dan ngobrol bersama selepas kami mengaji dan belajar di pos kamling depant rumah Lik Sutra hingga larut. Kami tidak tahu hampir setiap kami berkumpul di pos kamling, Lik Sutra selalu mengajak mencari jangkrik. Dibuatkannya kami obor sebagai lentera penerang di kegelapan malam di kebung jagung. Ternyata ada maksud terselubung yang dilakukan Lik Sutra dengan meninggalkan kami malam-malam di kebun jagung pak Fadholi.

Mas Herman pemuda lajang yang kami angap sombong, pelit ternyata salah kami menilainya. Seperti juga diungkapkan Karno bahwa Mas Herman tidur lelap malam itu. Mungkin karena setiap hari lembur di kantornya menjelang Pemilu.

Biarlah Karno dan Mas Herman yang menjelaskan kebusukan Lik Sutra.Untuk menghindari aib keluarga, Emak akhirnya memindahkan anak satu-satunya itu ke saudaranya di desa. Lik Sutra akhirnya mengakui perbuatannya itu dan menikahi pula perempuan itu. Lentera itu tidak bakalan menyala lagi. Taman lazwardi, hamparan karpet hijau dan musik symponi yang biasanya mengantar kami ke kebun jagung kini sepi. Tanpa ada injakan kaki-kaki anak desa yang dimotori oleh seorang penafsu besar dibalik lenteranya!

Sidomukti, sebuah desa di Kraksaan, 25 km arah Probolinggo.
Bila ada persamaan nama karaker tokoh dalam cerita ini itu hanya kebetulan saja.
Cerita ini murni hasil dari sebuah "imajinasi" Nangkris प्रबुलिंग्गा Wetan.

Menulis Dan Menulis

Setelah saya terkesan dengan cerpen-cerpen Tuti Nonka dulu, kini saya mencoba untuk membuat tulisan entah apa nanti namanya. Pokoknya cerita-cerita yang pernah saya tulis beberpa dekade ini akan saya rangkum dalam blog ini.

Mudah-mudahan saya bisa eksis untuk merawat kenangan yang tercecer khususnya di tempat kepribadian saya dibentuk yaitu Di Sudut Sidomukti.